PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEOLOGI MELAKSANAKAN SEMINAR ILMIAH

Share

Ruteng,14/03/2020. Mahasiswa/i Pendidikan Teologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan melaksanakan kegiatan Seminar Ilmiah dengan tema “MENJADI GURU PADA MELENIUM KETIGA: BERAKAR DALAM PANGGILAN KEGURUAN DAN MEMILIKI LITERASI DIGITAL”. Kegiatan ini dihadiri  P.Oswaldus Bule, Lic. Paed, Ketua Program Studi Pendidikan Teologi, yang membuka kegitan ini dan Fransiskus Sales Lega, M. Th, Sekretaris Program Studi Pendidikan Teologi, yang menjadi moderator seminar ilmiah ini serta mahasiswa/iProgram Studi Pendidikan Teologi tingkat I-III. Kegiatan ini dipandu oleh Adrianus Jemadis yang berperan sebagai master of ceremony (MC). Seminar diawali dengan doa yang dibawakan oleh Gregorius Tombo dan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Arsenia Mensiana Nunik. Narasumber pertama seminar yang dilaksanakan di Lantai 05 Gedung Utama Unika Santu Paulus Ruteng adalah Dr.Hendrikus Midun. M.Pd dengan judul makalah “GURU MENUJU PELAYANAN BERMUTU”. Midun, doktor lulusan Universitas Negeri Malang itu,  menandaskan bahwa kesadaran guru merupakan salah satu perdebatan dalam pengembangan profesionalisme guru. Perdebatan itu masih sangat hangat dan niscaya masih panjang karena adanya ketidaksetaraan masih terjadi pada guru di semua jenjang dan semua jenis pendidikan. Secara objektif konsep kesetaraan mencakup segmen pendidikan formal, penguasaan keilmuan pendidikan dan kompetensi yang dimiliki oleh para guru. Tiga segmen kesetaraan guru hingga kini belum mencapai  harapan yang ideal karena ada beberapa faktor regulasi yang kurang bagus dan baik dan koordinasi antara satu dengan yang lain dan lemahnya rekruitmen pada mahasiswa calon guru. Mantan Keprodi Pendidikan Teologi itu menjelaskan beberapa strategi yang ditawarkan untuk pengembangan kesetaraan guru antara lain, pertama, melakukan rekruitmen guru secara objektif dan transparan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh guru yang bermutu dengan tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga keterampilan dalam mengajar serta memiliki karakter untuk melaksanakan tugas-tugas pendidikan secara baik dan bermutu. Kedua, mengembangkan kompetensi-kompetensi guru secara berkelanjutan untuk mengatasi beragamnya kompetensi dan keterampilan guru. Ketiga, mengoptimalkan pemberian insentif berbasis mutu.

Pemateri kedua, Dr.Marselus Ruben Payong. M.Pd membawakan makalah berjudul “ZONA PRKEMBANGAN PROKSIMAL DAN PENDIDIKAN BERBASIS KONSTRUKTIVISME SOSIAL MENURUT LEV SEMYONOVICH VYGOTSKY”. Warek II Unika Santu Paulus itu menjelaskan tentang gagasan zona perkembangan proksimal yang masih relevan dalam pendidikan modern terutama untuk menuntut praktik-praktik pendidikan yang ramah terhadap perbedaan individual anak. Kritik Vygotsky terhadap praktik penyeragaman dalam persekolahan menjadi sebuah peringatan bagi guru dan penyelenggara pendidikan untuk memperkembangkan intervensi pembelajaran berbasis pada latar belakang individual siswa terutama perbedaan perkembangan mental mereka sehingga pendidikan dapat menjadi medium efektif untuk membantu tumbuh kembang anak secara optimal.

Pemateri ketiga P. Oswaldus Bule, SVD, dengan makalah berjudul “MENCARI ARAH PASTORAL ORANG MUDA”. Imam, anggota Serikat Sabda Allah itu menegaskan bahwa pada zaman sekarang banyak orang muda yang sedang mencari dan memastikan identitas dirinya. Hal ini tentu membutuhkan keterlibatan positif kontruktif pada semua pihak sehingga orang muda benar-benar mendapatkan dan mewujudkan jati dirinya yang sejati. Orang muda seharusnya dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan berpartisipasi dalam membangun universum. Menurut putera Nagekeo itu pastoral orang muda mesti memampukan orang muda mengalami dan merasakan adanya Tuhan yang mengasihinya dan mengundangnya untuk mengalami kebahagiaan dan keselamatan.  Selain itu, pastoral orang muda perlu mendampingi orang muda untuk menjadi gembala di tengah dunia digital, tandas lulusan Universitas Salesian Roma itu.

Fransiskus Sales Lega yang berperan sebagai moderator dalam kegiatan seminar ini menyimpulkan bahwa semua dipanggil untuk mengatasi persoalan-persoalan dalam pendidikan dan pastoral orang muda. Hal itu tidak hanya dilaksanakan dalam proses seminar ini tetapi juga dalam diskusi di luar kelas ataupun secara tatap muka.

Usai pemaparan  makalah, moderator membuka dua sesi diskusi dan banyak mahasiswa/i yang bertanya mengenai tema ini demi mempelajari secara lebih mendalam berkaiatan dengan tema yang dibawakan pada kegiatan seminar ini. Pada akhir seminar, diadakan foto bersama antara pemateri dan mahasiswa/i dari tingkat satu sampai tingkat tiga.

Peliput:

Yuyun Paskalia dan Suithbertus Roja Dori, Sie Dokumentasi dan Publikasi

Editor:

Br. Tomi Runesi, SVD

Leave A Reply