MAHASISWA/I PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEOLOGI MENGIKUTI SOSIALISASI BAHAN KATEKESE TAHUN PENGGEMBALAAN

Share

Pada hari Rabu, 11 Maret 2020, mahasiswa/mahasiswi Program Studi Pendidikan Teologi mengikuti sosialisasi bahan katekese Tahun Penggembalaan. Sosialisasi diberikan oleh RD Stanislaus Efodius Harmansi, Lic., In Re Bib. Sosialisasi ini merupakan bagian dari persiapan katekese pada hari Sabtu tanggal 14 Maret 2020 di Paroki Sita.


Romo Stanis, Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Ruteng, menyatakan bahwa bahan katekese dengan tema umum ‘penggembalaan’ merupakan salah satu kegiatan tahun penggembalaan 2020 sebagai implementasi  Sinode III Keuskupan Ruteng.
Lebih lanjut, imam dioses Ruteng ini, menegaskan bahwa bukan sebuah kebetulan pada tahun ini terjadi peristiwa pentahbisan Gembala Baru Keuskupan Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat.
Berkumpul di Ruang Van Roosmalen 08 sejak pukul 15.00, peserta pertemuan melaksanakan dua agenda, yakni sosialisasi dan simulasi. Hadir dalam kegiatan ini mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Teologi dari tingkat I-III. Hadir pula Fransiskus Sales Lega, M. Th (Sekretaris Program Studi Pendidikan Teologi), Adrianus Jebarus, M.Th (Moderator Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teologi), dan Tomas Morus Runesi, Ketua HMJ Pendidikan Teologi yang bertindak sebagai pemandu jalannya kegiatan.


Romo Stanis, dosen Kitab Suci Prodi Pendidikan Teologi, menjelaskan tentang metode dan tema katekese. Katekese yang menerapkan metode 3 M (mengamati dan menyadari, menimbang dan merefleksikan,  dan memutuskan rencana aksi) ini membahas empat tema yakni pertama, Tuhan: gembala umat beriman dengan tujuan membiarkan umat menyadari Tuhan sebagai gembala dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, Uskup: Gembala Gereja Lokal dengan tujuan agar umat mengetahui tugas dan fungsi kegembalaan uskup dan tergerak untuk membantu uskup dalam tugas penggembalaannya. Ketiga, pastor paroki: gembala di tengah kawanan domba yang bertujuan umat mengetahui tugas dan fungsi kegembalaan pastor paroki dan tergerak untuk membantu pastor paroki dalam tugas penggembalaannya.Keempat, Kaum awam: gembala di padang yang beragam, dengan tujuan agar umat KBG menyadari panggilan sebagai gembala dan berperan aktif membangun kehidupan sehari-hari sesuai tugas, pekerjaan, dan perannya.

Romo Stanis, alumnus Institut Biblicum Roma ini, menandaskan bahwa tugas kegembalaan bukan hanya tugas kaum tertahbis dan biarawan/i, melainkan juga tugas kaum awam.
Selain itu, kepada para mahasiswa Romo Stanis menandaskan peran kegembalaan OMK di padang media sosial. OMK diminta untuk tahu diri, tahu adat, tahu tempat saat menggunakan media sosial sebagai gembala dalam setiap aktivitas media sosial.


Usai sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi katekese yang dijalankan dalam 3 kelompok. Kata Simulasi berasal dari kata bahasa Inggris simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Geladi resik merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagarakan proses terjadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam pelaksanaannya nanti.


Simulasi juga berguna untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa. Metode simulasi bertujuan untuk: (1) melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari, (2) memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, (3) melatih memecahkan masalah, (4) meningkatkan keaktifan belajar, (5) memberikan motivasi belajar kepada siswa, (6) melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok, (7) menumbuhkan daya kreatif siswa, dan (8) melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.
Mahasiswa/i peserta simulasi yang dibagi dalam tiga kelompok didamping tiga dosen, yakni Stanislaus Harmansi, Lic., In Re Bib, Fransiskus Sales Lega, M. Th dan Adrianus Jebarus, M. Th. Simulasi berlangsung di ruang VR 08, VR 09 dan Aula Roosmalen itu. Simulasi berlangsung lancar, tertib dan aman.


Kegiatan sosialisasi dan simulasi diakhiri dengan penegasan Romo Stanis tentang pentingnya persiapan. “Persiapkan diri dengan baik sebelum masuk dalam arena untuk berkatekese.Seperti sekumpulan tentara yang akan berperang, maka yang dilakukan adalah persiapan diri yang matang sehingga menang dalam pertempuran, begitupun dengan bekatekese, yang diperlukan yakni persiapan diri dengan baik”.
Romo Stanis, putera Iteng, Satarmese itu, mendesak mahasiswa untuk mendalami dan menguasai teks katekese dengan baik, mempersiapkan kelengkapan bahan yang harus dibawaserta dalam katekese seperti Kitab Suci, dan lain sebagainya. Demikian juga dalam proses berkatekese hal yang harus kita lakukan yakni menciptakan suasana dan situasi baru dan juga berkatekese dengan menarik dan lancar dan juga yang paling penting sebelum berkatekese adalah berdoa memohon penyertaan Roh Kudus.
Peliput:
Sie Dokumentasi dan Publikasi HMJ
Suithbertus Roja Dori

Editor:
Tomas Morus Runesi

Leave A Reply