Membahas “EMERGENSI EDUKASI DI DUNIA YANG TIDAK PASTI”, Unika Indonesia Santu Paulus hadirkan German Sanzhez Griese

Share

Jumat, 9 Agustus 2019, German Sanchez Griese bersama dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng membahas emergensi edukasi di dunia yang tidak pasti. Pembahasan diawali dengan paparan singkat oleh anggota lembaga sekulir Regnum Christi itu. Dalam paparan yang dipandu moderator, Romo Maxi Regus, awam kelahiran Spanyol itu, menekankan peran dosen di Universitas Katolik. Ia menegaskan bahwa dosen tidak hanya membagi informasi, melainkan membentuk pribadi generasi milenial.

German yang sedang studi Teologi Hidup Religius di Universitas Lateran, Roma itu menyatakan bahwa dosen bertugas mengungkapkan nilai dan menyampaikan pengalaman hidup kepada generasi milenial. Hal ini amat penting karena seperti semua manusia, orang muda hidup dalam masyarakat yang selalu mengalami perubahan dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi pada perubahan itu.

German menyatakan bahwa generasi milenial dipengaruhi oleh tiga hal, yakni (1) aliran iluminisme dan positivisme, (2) revolusi kebudayaan tahun 1968, dan (3) rubuhnya tembok Berlin tahun 1989. Ketiga pengaruh itu diikuti dengan perubahan paradigma teknokratik yang diwarnai oleh perkembangan Android.

Perkembangan Android, menurut German, mengandung lima hal, yakni (1) anggapan dan keyakinan bahwa segala sesuatu sama nilainya. Tidak ada perbedaan sehingga orang dapat dengan mudah beralih dari pilihan yang satu ke pilihan lain. (2) Narsisme. Orang condong untuk mendewakan diri berlebihan. Ia tidak memiliki identitas yang jelas. (3) Fantasi. Orang hidup dalam fantasi, bukan dalam dunia nyata. Ia menerapkan seksualitas android, mencari pengalaman keintiman dalam perangkat teknologi internet. (4) Ia menjadi orang yang serba cepat, serba sibuk, tetapi tidak sanggup mengenal nilai kehidupan. (5) Ia menjadi manusia ekonomis – homo economicus. Manusia ini condong menilai hidup dari segi keuntungan ekonomis.

Di tengah situasi semacam ini, German menandaskan emergensi edukasi yang mesti dilaksanakan oleh dosen. Dosen bertanggungjawab memulihkan dimensi spiritual yang telah hilang. Ia bertugas menegaskan bahwa kebahagiaan tidak terutama terletak pada apa yang baik bagi tubuh. Ia terpanggil menyampaikan bahwa karier bukan penentu utama nilai kehidupan.

German menyatakan bahwa kelalaian dosen menyampaikan hal ini kepada orang muda akan berakibat fatal. Karena mereka akan mencari jawaban itu di internet atau pihak lain yang menyampaikan jalan sesat kepada mereka.

Ia mengimbau agar dosen melalui kata dan teladan menghidupi kehidupan sebagai manusia. “Live life as human being. That is real happiness.” Dan cara utama merawat kerohanian adalah memberikan contoh hidup bahagia, contoh perjuangan hidup.

“Didiklah mereka agar menghayati hidup, agar memahami bahwa hidup bukan berarti menangkan suatu pekerjaan, melainkan menghayati hal-hal kecil setiap hari! Didiklah mereka agar matang dan memiliki komitmen hidup! Didiklah mereka agar dapat mengadaptasikan diri dengan perubahan terus menerus. Didiklah mereka untuk hidup secara manusiawi! Didiklah mereka merawat spirit, menjaga keutuhan badan, pikiran, dan roh!”, tandasnya.

Menanggapi Pater Oswald Bule yang menyampaikan apresiasi atas imbauan untuk merawat spirit dan mensyeringkan kebiasaan doa pagi, misa mingguan, rekoleksi, pengakuan, dan kegiatan rohani lainnya yang belum menghasilkan buah optimal, German menyampaikan beberapa usulan. Pertama, tanyakan mahasiswa, apa yang mereka anjurkan untuk merawat spirit. Kedua, libatkan mereka dalam kegiatan relawan, menolong orang miskin, mengunjungi panti, dll. Ketiga,  dorong mereka terbuka dan ikuti bimbingan rohani atau kounseling. Keempat, usahakan cara-cara baru yang cocok dengan jiwa orang muda. Kelima,  buatkan promosi/iklan tentang pentingnya merawat kerohanian.

Pak Sebast Fedi, dosen Program Studi Pendidikan Matematika bertanya tentang pelayanan sakramen di tengah teknologi maju. Apakah ritus dengan cara lama masih relevan atau haruskah disesuaikan dengan perkembangan teknologi internet? Terhadap pertanyaan itu, Pak German menyatakan bahwa kita peerlu mengusahakan apa yang generasi milenial butuhkan. Kita perlu laksanakan reevangelisasi. Kita perlu atasi kehilangan pesan Yesus, yakni merawat spirit. Kita perlu ajarkan mahasiswa pentingnya hidup rohani itu dalam setiap pelajaran. Ajarkan mereka keheningan lima menit pada awal kuliah sejak September 2019 dan pada Ferbuari 2020 perhatikan, apakah ada perubahan? Beliau juga menganjutkan dilakukan lokakarya tentang doa, tentang berada dalam keheningan, tentang kontemplasi.

Kepada Pater Frans Laka SVD yang menyampaikan pandangannya tentang pendidikan karakter, German menekankan pentingnya sikap mendengarkan, kontak personal sebagai cara merawat spirit dan mencintai mereka. Ia pun menyampaikan prinsip Don Bosco: “Anda perlu mencintai orang  muda mereka mesti mengetahui hal itu”.

Kepada seorang ibu, dosen Fakultas Kesehatan yang bertanya tentang bahaya internet, German menyatakan bahwa internet menawarkan hal positif dan negatif. Orang muda perlu diajarkan agar tidak salah gunakan internet dan tidak dilecehkan oleh internet. Mereka perlu menjadi pemilik dan bukan dimiliki olehnya.

Leave A Reply