Kronik Kegiatan Reuni Teologi 2019: KATEKIS, KATEKESE DAN PENDIDIKAN PENULAR TOLERASI

Share

KATEKIS, KATEKESE DAN PENDIDIKAN PENULAR TOLERASI

(Kronik Kegiatan Reuni Alumni Katekis Uki St. Pulus Ruteng)

Oleh: Feliks Hatam

Alumni Pendidikan Teologi FKIP UKI Santu Paulus Rutung, saat ini bekerja sebagai Tenaga Kependidikan di almameternya. Pada saat reuni, sebagai panitia Dokumentasi dan Publikasi

Para Iman usai Perayaan Ekaristi (Foto: Feliks)

Para Iman usai Perayaan Ekaristi (Foto: Feliks)

 

Sejarah Singkat Prodi Pendidikan Teologi.

 

Penting disampaikan secara singkat tetang sejaran awal Program Studi Teologi, agar tidak kebingungan bila menemukan kata APK, KPK, Jurusan Kateketik dan Program Studi Pendidikan Teologi dalam tulisan ini. Sekali lagi, apa yang penulis sampaikan pada tulisan  ini hanya sejarah singkat Program Studi Pendidikan Teologi, dengan mengutip  secara singkat tulisan Dr. Yohenes Servatius Lon, M.A (Saat ini Rekor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng) yang berjudul” Sejarah STKIP St. Paulus Ruteng dari Roosmalen Hingga Tahun 2015 dalam buku: YAN VAN ROOSMALEN Tokoh Pendidikan Manggarai, Flores yang diterbitkan pada tahun 2015. Hal lain yang perlu disampaikan oleh penulis adalah singkatan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, yang selanjutnya disebut UKI Santu Paulus Ruteng. Singkatan UKI digunakan oleh penulis dalam tulisan ini untuk  mensingkatkan sebutan  Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, karena belum ada singkatan yang ditetapkan secara resmi.

 

Program Studi Pendidikan Teologi awalnya bernama Kursus Kateketik yang secara resmi dibuka pada tanggal 11 November 1959, kemudian diubah menjadi  Kursus Pendidikan Katekis/KPK (1960-1968). Kurang lebih delapan tahun menjadi KPK berubah kembali menjadi  Akademi Pendidikan Katekis/APK (1969-1986) Cita-cita pendiri KPK untuk menghadirkan pedidikan tinggi di Manggarai semakin kuat, sehingga diperoleh izin penyelenggaraan Akademi Pendidikan Katekis  melalui keputusan no. 179/D.P.T/I/1969 yang berlaku surut sejak 1 -7-1968.

Akademi kemudia beralih menjadi Sekolah Tinggi pada tanggal  13 Mei 1968 melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  RI nomor 0360/0/1986/ tentang penetepan kembali penyusian jalur, jenjang dan Program serta nama Unit/Fakultas/Jurusan/Program Studi Status disamakan pada perguruan tinggi swasta di lingkungan koordinasi Perguruan Tinggi swasta Wilayah VIII. Pada lampiran Surat tersebut disebutkan bahwa APK berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kateketik Ruteng Flores. Pada tahun 1996 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan SK nomor 0359/0/1996 tentang penetapan nama buku Program Studi Ilmu Theologi. Berdasarkan keputusan tersebut Direktur Pendidikan Tinggi RI melalui surat Nomor 386/DIKTI/Kep/1998 menegaskan perubahan nama dari Pendidkan Kateketik menjadi program Studi Pendidikan Teologi  untuk jenjang S1 di lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan dan Keguruan (STKIP) Santu Paulus Ruteng sejak tanggal 22 Oktober 1998.

Reuni 2019: APK, KPK, Jurusan Kateketik dan Program Studi Pendidikan Teologi

Alumni diterima Sacara Adat (Foto: Feliks)

Alumni diterima Sacara Adat (Foto: Feliks)

Selama tiga hari (5-7 Juli 2019) Program Studi Pendidikan Teologi FKIP Universitas Katolik Indonesia (UKI) Santu Paulus Ruteng melaksanakan Kegiatan reuni. Reuni tahun 2019 adalah reuni alumni KPK, APK, Jurusan Kateketik dan Program Studi Pendidikan Teologi yang dilaksanakan selama tiga hari, sejak tanggal 5 sampai dengan 7 Juli 2019. Pelaksaan reuni ini juga sekaligus menyambut ulang tahun UKI Santu Paulus Ruteng ke-60 tahun yang dilaksanakan pada tanggal 11 November 2019. 

Sekitar Pukul 15.00 waktu setempat (5 Juli 2019) para alumni mulai berdatangan menuju Aula Missio UKI Santu Paulus Ruteng untuk mengikuti berbagai kegiatan.  Seluruh rangkian kegiatan reuni alumni diawali dan diakhiri dengan perayaan Ekaristi yang dilaksanakan di Kapela UKI Santu Paulus Ruteng. Sebelum misa pembukaan dimulai setiap alumni melakukan registrasi kehadiran kepada panitia reuni.

Misa pembukaan yang dimeriahkan oleh kelompok paduan suara Program Studi Pendidkan Teologi dipimpin oleh Romo Inosensius Sutam, Pr dan didampingi oleh bebarapa iman lainya.

Rahim Ilmu: Menjadi Rahim Ilmu yang Baik

“Hari ini kita semua bersyukur bisa hadir dalam kesempatan reuni ini. Hari ini kita semua kembali berada UKI Santu Paulus Ruteng sebagai Ibu yang melahirkan kita sebagai seorang guru sekaligus Katekis. Kata Romo Inosensius Sutam, Pr, dalam kotbah dan sambutannya.

Menurutnya, salah satu point penting reuni bahwa kita kembali meningat masa-masa sulit  dan masa-masa menyenangkan saat kuliah, menseringkan pengalaman antar alumni, dan memberi sumbangan gagasan kepada program Studi Pendidikan Teologi khususnya dan UKI Santu Paulus Ruteng umumnya.

Peserta reuni sebagai insan yang lahir dari APK, KPK, jurusan Katekektik, maupun Pendidikan Teologi tentu telah menjadi rahim ilmu bagi generasi lain. Menjadi rahim ilmu bagi orang lain tentunya kita menjadi menjadi diding rahim yang baik, sehingga bisa melahirkan dan atau menjadi guru dan katekis yang baik. Oleh karena para alumni adalah insan yang telah menjadi  rahim ilmu yang baik, maka sumbangan gagasan melalui shering pengalaman untuk membangun dan meningkatkan kualitas  lulusan Program Studi Pendidikan Teologi ke depannya sangat kami butuhkan.

Saling Memperkenalkan Diri

Representasi Perkenalan Alumni (Foto: Feliks)

Ucapan selamat datang oleh Ketua alumni Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd, Ketua Program Studi Pendidikan Teologi, dan ucapan selamat datang oleh Rektor UKI Santu Paulus Ruteng  yang diwakili oleh Dr. Inosensius Sutam sudah selesai, maka dilanjutkan dengan santapan  malam bersama yang sudah disiapkan oleh panitia.  Usai makan malam, semua alumni yang hadir diperkenankan memperkenalkan diri  secara berurutan dari angkatan pertama kepada alumni lain dan mahasiswa Teologi.

Acara memperkenalkan diri para alumni setiap angkatan berlangsung sangat akrab.  Hal itu dapat dilihat saat mereka saling bercanda.  Mengisahkan sekilas perjuangan mereka saat masih kuliah, hal sulit dan hal menarik saat masih kuliah, dan pengalaman mereka di lapangan.

Jarum jam yang terpampang di ruangan acara (Aula Missio) sudah menunjukkan Pukul 23.00, waktu yang seharusnya untuk istrahat, apalagi bagi alumni yang baru tiba di Ruteng pada Pukul 19.00. Hukum waktu pada saat itu, tidak berlaku, sebab mereka masih saling  mengobrol, mengisahkan masa masih kuliah. Penulis menyaksikan  mereka sungguh akrab, dan suasana mengalahkan keletihan setelah perjalanan jauh. Suasana semakin ramai dan mengesankan saat mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi membawakan acara, seperti paduan suara, vocal group dan tarian adat Manggarai yang memukau para alumni yang hadir.

Tepat Pukul 00.00 Wita, semua rangkaian acara untuk hari pertama sudah selesai. Para alumni kembali ke rumah masing-masing bagi yang berasal dari Ruteng, dan kembali ke penginapan bagi mereka yang datang dari jauh.

Seminar Nasional: Katekis, Katekese dan Pendidikan Penular Tolerasi

Momen Sebelum Seminar (Foto: Feliks)

Hari Sabtu, tanggal 6 Juli 2019, dilaksanakan seminar nasional atas kerjasama alumni dengan Program Studi Pendidikan Teologi. Kegiatan seminar yang dihadiri oleh utusan Paroki Keuskupan Ruteng (ada yang sempat hadir), Para dosen UKI Santu Paulus Ruteng, Para alumi perserta reuni, dan mahasiswa Program Studi Pendidkan Teologi mengusung tema “TANTANGAN PEWARTAAN IMAN KATOLIK DI ERA RADIKALISME BERBASIS AGAMA DI INDONESIA”.

Mohamad G. Romli (Foto: Feliks)

  Tema ini dikupas oleh lima pemateri, yaitu pertama: Mohamad Guntur Ramli, seorang aktivis dan politisi dengan judul makalah “Menghadang Agenda Politik Islam Radikal di Indonesia”. Kedua: Pater Dr. Phlipus Tule, SVD, Rektor Unika Widya Mandira Kupang. Pater Philipus pernah menjadi dosen terbang di STKIP (yang saat ini menjadi UKI Santu Paulus Ruteng) untuk mata kuliah Islamologi bagi mahasiswa Teologi. Judul makalahnya adalah  Prospek Dialog Antarumat Beragama   dalam Konteks Radikalisme Berbasis Agama di  Indonesia.”

Ketiga, tema seminar tersebut dikupas oleh Dr. Agustinus Manfred Habur, Sekretaris Jendral Keuskupan Ruteng  dan Dosen Program Studi Pendidikan Teologi Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Pada kesempatan itu, Romo Manfred, panggilan akrabnya, mempresentasikan model katekese humanis sebagai langkah untuk menangkal radikalisme agama, dengan judul makalah” Model Katekese Humanis Menangkal Radikalisme Agama.”

Ptr. Philpus Tule, S.Vd (Foto: Feliks)

Setelah membicarakan konteks radikalisme berbasis agama di  Indonesia yang dibahas oleh Mohamad Guntur Romli, lalu peserta seminar mendapat kiat-kiat  menangkal radikalisme dalam dialog agama, yang dibahas oleh Pater Philipus. Karena perserta seminar sebagian besar adalah katekis, guru agama katolik, dan agen pastoral, maka Romo Manfred mengajak peserta seminar untuk mengedepankan model katekese yang humanis.

Seminar  sehari yang dilaksanakan di Aula Missio itu (6 Juli 2019) tidak berhenti pada model katekese humanis sebagai upaya menangkal radikalisme, tetapi sampai pada bagaimana peran seorang katekis dan peran pendidikan dalam menangkal radikalisme. Oleh karena itu, pemeteri keempat Romo Fransiskus Emanuel da Santo, Komkat KWI mempersentasikan makalahnya dengan judul Profil dan Peran Katekis dalam Menghadapi  Radikalisme Berbasis Agama. Sementara materi teakhir, tidak diseminarkan, tetapi dibagikan kepada perserta, secara khusus membahas peran pendidikan sebagai penular tolerasi. Hal itu ditulis oleh Dr. Marsel Ruben Payong, M.Pd (Dosen Pendidikan Teologi) dengan Judul: Pendidikan Toleransi Untuk Membangun Kerukunan dalam Perbedaan  di Indonesia.

Romo Fransiskus Emanuel da Santo adalah APK Prodi Pendidikan Kateketik dan Dr. Marsel Ruben Payong, M.Pd  adalah alumni Pendidikan Kateketik jenjang S1 Teologi Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

Selalu Komitmen Mengutamakan Mutu

Pada hari yang sama (Sabtu, 6 Juli 2019) setelah seminar nasional  dan makan siang bersama, dilanjutkan dengan acara berikutnya, yakni peyampaian materi oleh Romo Teobaldus Roling Mujur, Ketua Yayasan Santu Paulus Ruteng, tentang komitmen dan rencana strategis Yayasan Santu Paulus Ruteng dalam mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan UKI Santu Paulus Ruteng, baik dari segi sarana prasana maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

“Pihak yayasan selalu berkomitmen untuk menyediakan sarana dan prasarana, dan meningkatkan Sumber Daya Manusia untuk menunjang proses pembelajaran di UKI Santu Paulus Ruteng” Kata Romo Roling, di hadapan para alumni perserta reuni.

Kesempatan selanjutnya adalah pemaparan materi dari Rektor UKI Santu Paulus Ruteng tentang pencapaian dan atau prestasi yang sudah dicapai oleh  UKI Santu Paulus Ruteng waktu masih berstatus sekolah tinggi. Selain itu, Rektor menjelaskan kepada alumni tentang keadaan Sarana Prasarana, SDM, dan rencana strategis yang dikongkritkan dalam visi dan misi UKI Santu Paulus Ruteng ke depannya.

“Perkembangan lembaga pendidikan ini mulai dari APK sampai pada status Universitas Ruteng tidak terlepas dari doa dan dukungan semua pihak, termasuk alumni. Alumni adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam perumusan rencana strategis lembaga ini ke depannya untuk menciptakan pendidikan yang berrmutu.

Membuka Program Studi Baru: Kajian yang Serius

Ketua Yayasan dan Rektor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng setelah meyampaikan materi dilanjutkan dengan sesi diskusi dan dengar pendapat dari para alumni tentang rencana pengembangan UKI Santu Paulus Ruteng ke depannya.  Pada sesi dengar pendapat dari alumni, di antara beberapa alumni perserta reuni mengusulkan kepada ketua Yayasan dan Rektor untuk membuka program Studi Baru. Program Studi baru yang dibuka ke depannya jangan hanya keguruan, tetapi kampus juga membuka jurusan lain sesuai keadaan dan kebutuhan masyarakat Manggarai.

Harapan dan usulan perserta reuni  untuk membuka program studi adalah masukan yang sangat bagus dan sebagai bukti cinta terhadap lembaga ini.  Oleh karena itu, masukan dan usulan tersebut kami terima untuk dikaji lebih lanjut. Sebab untuk membuka program studi baru harus melalui kajian dan analisis yang serius, sehingga jurusan tersebut benar-benar dibutuhkan. Demikian kata Rektor   Universitas Katolik Indonesia santu Paulus Ruteng.

Sharing Pengalaman: Semangat Katekis Tetap Melekat sebab Semua Menjadi Media Pewartaan

 

Petang sudah tiba, dinginnya kota Ruteng menusuk pori-pori. Semuanya tidak peduli dengan petang yang tiba, dingin yang semakin menggigilkan badan, sebab kehangatan  membagi pengalaman sembari tenteng segelas kopi Manggarai  bagaikan jaket atau selimut yang tak kelihatan.

Sharing lepas di depan Aulla Missio sudah selesai, saatnya shering pengalaman yang dimoderator oleh Dr. Marselus Rubeng Payong, M.Pd. Tiga orang alumni mewakili para alumni untuk menseringkan pengalamannya; mereka adalah Ibu Yustina Ndung, yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Negeri Malang,  Pater Marsel Agot dan Pak Melkor Koli Baran seorang pekerja kemanusiaan/LSM.

Tiga orang yang diberi kesempatan untuk sering pengalaman adalah tidak bekerja sebagai katekis dan guru agama, dan ada beberapa peserta reuni yang hadir justru berperan di bidang politik, koperasi, wartawan, dan bidang LSM.

Ketika diminta untuk menseringkan pengalaman mereka berkata “semangat dan nilai-nilai seorang ketekis tetap melekat dalam diri kami. Nilai-nilai agama tetap dipegang teguh dalam menjalangkan tugas dan karya kami. Apa yang telah kami pelajari di sini, menjadi pedoman bagi kami untuk melayani sesama manusia berdasarkan karya kami. Kami beryukur, tentang kesempatan belajar di kampus ini. Kampus ini telah berhasil menempa kami, hingga kami bisa seperti ini.”

Jejak Pendapat:  Membangun Program Studi Pendidikan Teologi

Jejak pendapat dan penyampaian gagasan oleh alumni untuk membangun Program Studi Pendidikan Tinggi dan langkah-langkah mengembangkan Universitas katolik Indonesia santu Paulus Ruteng adalah salah satu agenda kegiatan reuni. Kegiatan ini dilaksanakan hari terakhir reuni yakni, hari Minggu,7 Juli 2019.

Begitu banyak masukan dan gagasan dari para alumni untuk meningkatkan mutu lulusan, terutama lulusan Teologi, di antaranya adalah tingkatkan praktik  liturgi praktis kepada mahasiswa, tingkatkan profesionalisme  mahasiswa sebagai seorang guru agama katolik dan agen pastoral, komunikasikan kepada keuskupan Ruteng tetang peran serta katekis sebagai agen pastoral di Paroki, dan masih  banyak hal lainnya.

Ketua Program Studi Pendidikan Teologi dan Dr. Maselus Ruben Payong, M.Pd sebagai moderator dalam kegiatan itu mengatakan, masukan dari perserta reuni sebagian besar telah kami laksanakan, dan akan terus dilaksanakan melalui peninjauan dan perubahan kurikulum, semantara hal-hal lain akan kami evaluasi dan meninjau  kembali. Hal itu dibenarkan oleh ketua Program Studi bahwa, gagasan para alumni dan penemuan para alumni di lapangan kami terima untuk dipertimbangkan demi kemajuan.

Kesaksian Hidup

Seluruh rangkaian kegiatan reuni diawali dan diakhiri dengan Perayaan Ekaristi. Romo Geradus Janur, Pr. yang adalah Vikep Ruteng dalam kotbahnya menekankan pentingnya kesaksian hidup seorang pewarta dalam mewartakan Kristus (Ruteng, 7 Juli 2019).

Seorang katekis dan agen pastoral dalam bidang pelayanan masing-masing adalah sebagai perutusan untuk mewartakan kabar gembira agar semua orang memperoleh kedamaian dalam dan bersama Kristus. Spirit Santu Paulus sebagai Santu Pelindung dari lembaga ini tetap dihayati oleh para alumni dalam setiap karya dan pelayanannya.

Acara Penutup: Wartakanlah dan Jadilah Saksi

Misa penutupan rangkaian  kegiatan alumni selesai. Semua peserta reuni diarahkan kembali ke Aula Missio untuk mengikuti beberapa rangkaian acara penutup, yakni sambutan-sambutan.

Dr. Inosensius Sutam, dalam sambutannya mengatakan bahwa, para alumni adalah mitra tetap untuk memberi sumbangan, baik moril maupun material kepada lembaga ini. Gagasan para alumni dan temuan para alumni di lapangan  adalah sumbangan berharga demi kemajuan lembaga ini. Para alumni adalah pewarta dan saksi-saksi lembaga ini di tengah masyarakat.

Sementara Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd, dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa, ikatan alumni ini akan kita behani kembali, sehingga terbentuknya ikatan alumni untuk semua lulusan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Mengingat peran sentral alumni sangat penting, maka akan kita kaji kembali secara serius tentang waktu pelaksanaan reuni ke depannya.

Diketahui bahwa, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng adalah hasil penggabungan dua sekolah Tinggi yang awalnya dikenal dengan nama STKIP Santu Paulus Ruteng dan STIKes Santu Paulus Ruteng. Izin pengabungan tersebut berdasarkan SK menristekdikti tentang “Izin Penggabungan Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan St. Paulus Ruteng dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santu Paulus Ruteng di Kabupaten Manggarai Menjadi Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng di Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang diselenggarakan oleh Yayasan Santu Paulus Ruteng”
Adapun keputusan ini sekaligus memberikan ijinan untuk membuka fakultas baru, yakni fakultas Pertanian yang didalamnya mencakup dua program studi: Sosial Ekonomi Pertanian dan Agronomi.
Dengan demikian sampai saat ini, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng menyelenggarakan sepuluh (10) Program Studi, yakni, (a) FKIP: (1) Pendidikan Teologi (S-1), (2) Pendidikan Bahasa Inggris ( S-1), (3) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (S-1), (4) Pendidikan Matematika (S-1), (5) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S-1),(6) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (S-1), (b) Fakultas Kesahatan: (7) Keperawatan (S-1), (8) Kebidanan (D-3), (c) Fakultas Pertanian: (9) Sosial Ekonomi Pertanian (S-1), Agronomi (S-1)

 

Leave A Reply