MEMBAHAS DIAKONIA GEREJA, PRODI PENDIDIKAN TEOLOGI MENYELENGGARAKAN SEMINAR ILMIAH

Share

Diakonia Gereja: Mengendus Dasar Biblis Spiritual dan Praksisnya bagi Pendidikan dan Ekologi. Inilah tema seminar sehari yang dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Teologi STKIP Santu Paulus Ruteng, bertempat di ruang Van Roosmalen 08, pada tanggal 25 Mei 2015 mulai pukul 08:00 wita sampai pukul 12:00 wita. Seminar menghadirkan tiga pemateri, dosen Prodi Pendidikan Teologi, yakni, Dr. Marthin Chen, Dr. Marsel R. Payong, dan Oswaldus Bule, Lic. Paed.

Sesungguhnya, Dr. Yohanes S. Lon telah menyiapkan makalah, namun tidak dapat menyajikannya karena mesti ke Labuan Bajo untuk menjemput Menteri Riset,Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) yang akan meresmikan berdirinya Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus.

Seminar ini dibuka secara resmi oleh Dr. Inosentius Sutam, Pembantu Ketua I STKIP Santu Paulus Ruteng. Dalam sambutan pembukaannya Dr. Inosensius mengatakan bahwa seminar ini adalah kegiatan intelektual yang penting. “Diakonia adalah tema kegiatan pastoral dioses Ruteng 2019. Oleh karena itu, dengan merefleksikan tema ini, kita ikut menyukseskan program keuskupan Ruteng”, tandas Romo asal Tere, Poco Leok ini.

Lebih lanjut, Romo Ino menegaskan bahwa Gereja saat ini membutuhkan tenaga-tenaga pendidik dalam bidang pastoral. Oleh karena itu sebagai calon katekis dan katekista, mahasiswa mesti menjalani fungsi missioner Gereja yakni Tritugas Kristus dan Pancatugas Gereja. Menjadi pelayan bukan berarti menjadi hamba. Tetapi pelayan adalah tugas yang harus dilaksanakan dengan hati dan tanpa paksaan.

Dr. Martin Chen, pemateri pertama membawakan tema: Menorehkan Wajah Manusiawi Kepada Dunia. Perutusan Diakonia Gereja. Beliau menyatakan bahwa diakonia Gereja memiliki dasar biblis-teologis. Dasar biblis ditemukan antara lain teks-teks Kis Ras 6:1-6; Lukas 7:20-22; Lukas 4: 18-19; Yoh. 13: 14; Mat. 25:31-46.

Lebih lanjut, direktur Pusat Pastoral Dioses Ruteng ini menegaskan bahwa diakonia memiliki ciri kristologis. Diakonia adalah sikap dan tindakan Kristus yang memberikan diriNya. Oleh karena setiap murid Kristus perlu memiliki komitmen untuk mewujudkan diakonia itu. Selain itu,  menurut Romo Chen, diakonia memiliki dasar eklesiologis dan dasar hukum cinta kasih. “…diakonia bukanlah sekedar hanya satu fungsi dalam kehidupan Gereja, tetapi mengungkapkan identitas Gereja yang sesungguhnya”, tandas doktor tamatan Jerman itu. “Diakonia memiliki dasarnya pada hukum cinta kasih, yakni cinta pada Tuhan dan pada sesama”, tambahnya.

Setelah membahas dasar biblis-teologis, Romo Chen mengulas adresat diakonia dan motif serta ciri diakonia. Beliau juga menekankan pentingnya sistem dan struktur serta spiritualitas yang memungkinkan terlaksananya diakonia yang bermutu dan berkelanjutan.

Pemateri kedua, Oswaldus Bule, Lic. Paed membahas topik Memahami Spiritualitas Pendidik. Beliau mengulas tentang sejarah dan asal kata dari spiritualitas, makna spiritualitas, dan kebutuhan spiritualitas bagi manusia pada umumnya dan pendidik khususnya. “Seperti halnya aktivitas bernafas, demikian pula aktivitas mengembangkan spiritualitas sangat menentukan kehidupan manusia. Seperti halnya berhenti bernafas berarti kematian, demikian pula berhenti mengembangkan spiritualitas berarti mengakhiri kehidupan”, tandasnya.

Pemateri ketiga Dr. Marsel R. Payong, M.Pd memaparkan makalah berjudul ‘Tantangan Tata Kelola Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0’. Doktor Teknologi Pendidikan ini mengatakan bahwa revolusi industri atau revolusi digital, revolusi internet ditandai oleh turbulensi teknologi informasi yang dahsyat. Hal itu membawa dampak serius bagi tata kelola pendidikan. Menurutnya, di era disrupsi ini kurikulum sebagus apapun tidak akan mampu mengantisipasi gejolak dan perubahan-perubahan masyarakat dan dinamika kehidupan di luar sekolah atau kampus yang dipicu oleh perkembangan luar biasa di bidang teknologi terutama teknologi informasi.

Wajah pendidikan akan berubah dengan adanya massive open online course (MOOC), virtual classroom, open education, online learning, web-based education. Pendidikan kini “menjadi open access yang menimbulkan mass education sehingga dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja tanpa pandang usia, status sosial, dan kedudukan,” tandasnya.

Beliau mengingatkan agar tata kelola pendidikan mesti dibenahi antara lain dengan mengutamakan pengajaran kemampuan pemecahan masalah kompleks dan keterampilan sosial, penguasaan bahasa, matematika, seni, dan literasi keuangan; demikian pula, perlu dilahirkan pribadi pembelajar dan inovatif serta melek informasi, media, dan teknologi.

Seminar ini dipandu oleh moderator Fransiskus Sales Lega, M.Th yang mengawali forum ilmiah ini dengan menegaskan bahwa diakonia adalah jati diri dan tanggung jawab anggota Gereja. “Bila Rene Descartes menyatakan bahwa cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada), maka Emanuel Levinas berkata:  respondeo ergo sum (saya bertanggung jawab,maka saya ada)”, tandas Sekretaris Prodi Pendidikan Teologi ini yang menutup seminar dengan mengimbau peserta untuk mewujudkan diakonia yang kreatif, inovatif, dan digital.

Peliput: Tomas Morus Runesi, SVD

Editor: Oswaldus Bule, Lic. Paed

Leave A Reply