BERPIKIR GLOBAL DAN BERTINDAK LOKAL

Share

Berpikir global dan bertindak lokal. Demikian penegasan moderator Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Teologi, Adrianus Jebarus, M.Th ketika membuka secara resmi seminar mahasiwa Program Studi Pendidikan Teologi yang berlangsung di ruang Van Roosmalen 12 STKIP Santu Paulus Ruteng pada tanggal  11 Mei 2019. Lebih lanjut  lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero ini menyatakan bahwa perkembangan dunia yang sangat pesat baik secara global maupun secara lokal menyebabkan kaum muda sering terjebak dalam budaya hedonis sehingga membuat sebagian orang muda menjauhkan diri dari nilai-nilai moral Kristiani sehingga nilai moral menjadi “kusut”. Oleh karena itu,  kaum muda dituntut membangun spiritualitas yang berdampak pada penanaman nilai moral yang membentuk sikap kritis dalam mengembangkan potensi sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing.

Seminar yang mengusung tema “Membangun Spiritualitas Kaum Muda Dalam Perspektif Budaya dan Ekologis”menghadirkan tiga pemateri mahasiswa yakni Yohana Susanti Pangkak, Valentinus Sutrisno, dan Andeke Kartini Kalalo.

Pemateri pertama Yohana Susanti Pangkak membawakan materi dengan judul “Membangun Spiritualitas Kaum Muda Menurut Amsal 22:6 di KBG Rosa Mistika Paroki Tritunggal Mahakudus Ranggu. Yohana dalam pemaparannya mengatakan bahwa kaum muda adalah harapan keluarga, nusa, bangsa dan Gereja. Orang muda merupakan penggerak suatu perubahan yang lebih baik, menjadi pemberi harapan perdamaian bagi masyarakat maupun Gereja. Mereka adalah bagian terpenting dari umat Allah yang dengan kehadiran dan perannya membuat Gereja menjadi lebih hidup dan dinamis.  Kaum muda adalah subjek-subjek Gereja yang keberadaannya memaknai persekutuan Gereja kini dan akan mengambil alih peran orang dewasa mengembangkan Gereja masa depan. Yohana mengatakan dengan nada kesal bahwa begitu banyak masalah-masalah dan situasi yang terjadi dalam kehidupan kaum muda terutama masalah yang terjadi di KBG Rosa Mistika Paroki Ranggu, kaum muda kurang terlibat aktif dalam proses pendewasaan iman. Hal ini nampak dalam pada kurangnya kesadaran kaum muda untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan gerejani.  Maka spiritualitas kristiani mendorong umat beriman terutama kaum muda agar dapat berkembang dalam iman, harapan, dan kasih. Inti dari spiritualitas adalah hubungan pribadi dengan Allah dan Roh Kudus. Spiritualitas itu sendiri tidak bersumber dari pola pikir manusia, tetapi harus bersumber dari pola pikir Allah yang dinyatakan melalui FirmanNya.

Pemateri kedua Valentinus Sutrisno memaparkan makalah dengan judul “Revitalisasi Musik Tradisional Manggarai (Nggong dan Gendang) Bagi Kaum Muda di Gendang Nege dan Relevansinya bagi Pengembangan Musik Liturgi”. Ventos, demikian sapaannya, mengatakan bahwa musik tradisional kerap kali disebut sebagai musik lokal yang hanya berkembang di suatu daerah, diwariskan secara turun temurun untuk mempertahankan dan melestarikannya. Musik tradisional juga merupakan sarana untuk menghibur kalangan masyarakat setempat, namun dalam kebudayaan Manggarai musik tradisional dibunyikan atau dimainkan pada acara atau upacara-upacara adat tertentu dan bersifat sakral. Nggong yang terbuat dari drum dan gendang yang dihasilkan dari kulit kambing atau sapi merupakan alat musik tradisional Manggarai yang  dibunyikan atau dimainkan pada saat upacara-upacara penti dan upacara-upacara adat lainnya.

Lebih lanjut Ventos mengatakan seni musik daerah Manggarai merupakan seni musik yang dihasilkan oleh alat-alat musik tradisional Manggarai. Musik tradisional Manggarai seperti nggong dan gendang yang berkembang di daerah Manggarai merupakan salah satu alat untuk mengekspresikan budaya yang unik, dan merupakan sebuah khazanah kekayaan daerah Manggarai.  Dalam tradisi Manggarai, alat musik nggong dan gendang tidak asing lagi, karena nggong dan gendang sangat diperlukan dan dibutuhkan masyarakat Manggarai dalam upacara adat seperti congko lokap, roko molas poco, penti, dan upacara adat lainnya yang bersifat sakral dan resmi. Dalam hal ini bunyi nggong dan gendang memiliki nilai simbolis yang sangat kuat bagi tradisi masyarakat Manggarai baik nilai religius, sejarah dan juga pujian terhadap keindahan alam serta alat musik tersebut digunakan untuk mengiringi tarian yang memiliki nilai ritual dalam upacara adat Manggarai.

Pemateri ketiga Andeke Kartini Kalalo mengangkat judul “Pesan Ekologis ‘Laudato Si’ dan Implikasinya terhadap Pastoral Lingkungan Hidup Komunitas Suster DSY di Paroki St. Pius X Mukun.” Dalam paparannya pemateri mengatakan bahwa manusia-manusia zaman ini memiliki suatu gaya hidup yang serba instan sehingga melahirkan kemalasan yang mengakibatkan kurangnya perhatian pada lingkungan sekitarnya, yang kemudian membentuk sifat serakah ingin mengambil semua demi kepentingan dan kesejahteraan hidupnya sendiri. Manusia menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalam alam. Inilah yang menjadi akar utama dari dosa ekologis yakni kemalasan dan keserakahan. Jalan keluar utama untuk menghindari bencana alam bukan hanya ada pada pihak pemerintah, pihak Gereja atau instansi tertentu, tetapi pada diri kita masing-masing. Kesadaran merawat lingkungan alam sekitar melalui reboisasi, penghijauan kembali dan penghentian tindakan tebang pilih tanam bisa kita lakukan apabila kita benar-benar mau peduli akan ekologi. Manusia kadang salah berpikir terhadap lingkungan hidup bahwa lingkungan hidup  tidak memiliki nilai pada dirinya, melainkan hanya manusialah yang memiliki nilai pada dirinya.maka terjadilah dekadensi penghargaan terhadap lingkungan yang berakibat pada kegiatan eksploitasi tanpa disertai rasa tanggung jawab yang memadai. Gerakan ramah lingkungan menjadikan manusia dapat bersahabat dengan alam dan memperbaharui alam lingkungan yang sudah rusak kembali kepada keadaan semula. Cara manusia bertindak terhadap alam harus sesuai dengan citra dirinya yaitu sebagai manusia yang berakal budi. Perubahan cara pandang kita dapat diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari dalam hubungannya dengan alam.

Lebih lanjut anggota biarawati Dina Santo Yosef (DSY) ini mengatakan bahwa dalam konteks masyarakat di paroki St. Pius X Mukun, masalah lingkungan hidup yang kerap terjadi disebabkan oleh daerah aliran sungai yang dijadikan lahan perkebunan, dan menganggap mata air sebagai milik pribadi sehingga sumber mata air banyak tetapi masyarakat kekurangan air. Selain itu terdapat pula masalah sampah yang disebabkan oleh karena kebiasaan mengonsumsi makanan jadi yang ada dalam kemasan plastik serta aktivitas di pasar yang belum ada pengelolaan sampah baik dari pemerintah dan pengelola pasar maupun masyarakat yang menjadi konsumen. Hal ini menjadi perhatian penulis karena belum adanya pastoral khusus dan sistematis yang mengarah pada pelestarian lingkungan hidup mengenai pemahaman atau cara pandang terhadap manusia, tentang alam, dan keseluruhan ekosistem. Oleh karena itu, penulis berusaha mengangkat hal-hal tersebut yang berkaitan dengan pesan ekologis agar bersama dengan para suster DSY dapat menemukan solusi melalui kegiatan pastoral lingkungan hidup.

Seminar ini berakhir dengan pesan bernas dari ketiga pemateri untuk kaum muda agar memiliki kesadaran diri sendiri, tinggalkan sikap egoisme dan tingkatkan sikap sosialitas. Demikian pula, diharapkan kaum muda rela menerima didikan positif dari orang tua agar dapat membina diri untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah masa depan Gereja, nusa dan bangsa. Harapan itu tidak boleh menjadi slogan saja, melainkan mesti diwujudkan secara nyata dari dan oleh orang muda untuk Gereja, nusa dan bangsa.

Peliput: Bruder Tomas Morus Runesi SVD

Editor: Pater Oswaldus Bule SVD

Sebagian Mahasiswa Peserta Seminar

 

Leave A Reply