TAK ADA KEBANGKITAN TANPA PENDERITAAN DAN KEMATIAN, TAK ADA KESELAMATAN TANPA KASIH DAN PENYALIBAN

Share

Perayaan Paskah merupakan puncak iman Katolik, perayaan iman akan kasih Allah kepada umat-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Sebagai perayaan iman, maka perlu dirayakan secara bersama dengan segenap Gereja agar Paskah Kristus menjadi Paskah semua umat beriman.

Dalam rangka memaknai perayaan Paskah,  Program studi Pendidikan Teologi mengadakan asistensi di stasi Puntu, paroki Nangalanang pada 18 – 21 April 2019. Ada 64 mahasiswa dan dua dosen pendamping yang ikut dalam kegitan asistensi tersebut. Mereka memaknai misteri kasih Allah yang mencintai umat-Nya dengan kasih yang total untuk ada bersama dan mengalami kehidupan di tengah umat.

Kehadiran rombongan mahasiswa program studi Pendidikan Teologi disambut baik dan hangat oleh umat stasi Puntu dengana cara kepok, minum dan makan bersama di gedung Program Khusus. Setelah makan, mahasiswa dan dosen dibagi ke 6 KBG dan di pastoran. Keberadaan dan tinggal bersama umat merupakan salah satu bentuk pastoral umat yang dilakukan oleh program studi Pendidikan Teologi.

Selama 4 hari berada bersama umat di stasi Puntu, mahasiswa melaksanakan kegiatan jalan salib hidup, koor, katekese umat, sekami, kunjungan umat, olah raga dan malam kesenian. Kegiatan-kegiatan  itu merupakan bentuk implementasi tahun pelayanan 2019 ini dan sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkuat iman, harapan dan kasih satu sama lain. Selain itu semua kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan iman umat akan Kristus yang bangkit serta membangun kesadaran dan partisipasi umat untuk untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan menggereja.

Menurut Pater Daniel Fallo, SVD sebagai pastor yang menangani stasi Puntu, Paskah Kristus mempunyai makna apabila melewati berbagai penderitaan, penyaliban dan kematian. Maka pada perayaan Jumat Agung umat mengenang kematianYesus. Dalam kotbahnya, Ketua Komisi Komunikasi SVD Ruteng itu mengatakan bahwa Jumat Agung merupakan perayaan merenungkan penyaliban dan kematian Yesus. Dengan merenungkan penyaliban dan kematian Yesus, kita diajak untuk merenungkan ketidakberdayaan kita, kefanaan kita, kehampaan kita. Bahwa sesungguhnya kita ini tidak berarti apa-apa di hadapan Tuhan kalau tidak mati dan disalibkan bersama Yesus.

Sementara itu ibu Emilia mengatakan bahwa jalan salib hidup yang diperankan mahasiswa sungguh luar biasa dan menyenangkan. Melalui jalan salib hidup umat dihantar untuk masuk dalam misteri penderitaan, sengsara dan kematian Yesus. Peristiwa Salib menjadi sumber kekuatan dan pengharapan bagi umat stasi Puntu dalam menghadapi setiap peristiwa kehidupan.

Pada Sabtu Suci umat merayakan misteri kebangkitan Kristus. Dalam kotbah Pater Daniel Fallo, SVD mengatakan bahwa Paskah yang kita rayakan adalah suatu pembebasan kita dari dosa, dan kita diselamatkan oleh darah Yesus dan kita dianugerahi keselamatan dan dibebaskan dari penghukuman yang kekal. Paskah menjadi bermakna bila kita berani meninggalkan segala dosa dan membuka diri bagi karya Allah dengan membuka pintu pengampunan dan maaf. Paskah akan bermakna bila kita mau menerima anugerah-Nya dan hidup dalam kasih Kristus. Paskah menjadi bermakna apabila kita semua berani mengintropeksi diri untuk menjadi pribadi seperti Yesus yang penuh cinta kasih, yang mau melayani bagai seorang hamba, yang rela berkorban dan yang memberikan harapan dan kekuatan bagi orang lain.

Koor yang dibawakan oleh mahasiswa sungguh menggugah hati umat untuk mengalami misteri Paskah. Melalui keterlibatan dalam perayaan dan mengalami koor yang indah, umat termotivasi untuk menghidupi iman dan membangun gereja menuju gereja mandiri yang saling memberi dan berkorban demi kebahagiaan bersama.

Penulis: Maria Marselina Bunga Koten

Editor: Oswaldus Bule

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply