MENJADI PETANI KREATIF DAN MANIDIRI OLEH: FRANSISKUS SALES LEGA, M.TH

Share

Dalam refleksinya tentang manusia sebagai makhluk politik, Aristoteles menyatakan bahwa setiap individu memiliki dan memainkan peran tertentu di dalam polis. Perwujudan diri manusia diletakkan dalam konteks usaha mewujudkan potensi-potensi yang ada diri setiap orang. Seorang politisi mewujudkan diri melalui pelaksanaan tugas sebagai politisi dengan dedikasi yang tinggi. Seorang guru mewujudkan diri melalui pengembangan keahlian dalam bidang pendidikan. Seorang tentang mewujudkan diri pengembangan keahlian berperang. Petani mewujudk an diri melalui pengembangan keahlian bertani. Semua profesi ini (politisi, guru, tentara, petani) adalah ekspresi politis dari diri manusia. Setiap elemen dalam polis, menurut Aristoteles, saling membutuhkan  dan melengkapi satu sama lain.

Manusia mewujudkan diri melalui kerjanya. Manusia adalah homo laborans. Bekerja bukan aktivitas tambahan pada manusia, melainkan sesuatu yang inheren dalam dirinya sebagai makhluk berakal budi. Dengan akal budinya, manusia menata dan memaknai kerjanya. Meskipun kerja dilihat sebagai salah satu jalan perwujudan diri manusia, namun manusia itu sendiri cendrung membuat tingkatan atau kategori atas pekerjaan. Ada pekerjaan yang bernilai tinggi, tetapi ada juga pekerjaan yang bernilai rendah. Pekerjaan-pekerjaan manusia, misalnya, digolongkan ke dalam white collar job dan blue collar job. Kategori pekerjaan yang pertama adalah pekerjaan-pekerjaan halus dan berupah atau bergaji tinggi, sedangkan kategori pekerjaan yang kedua adalah pekerjaan-pekerjaan kasar dan berupah rendah. Konsekuensinya white collar job menjadi incaran banyak orang, sedangkan blue collar job selalu kurang disukai. Pembedaan terhadap pekerjaan ini juga seringkalii berpengaruh terhadap  penilaian tentang martabat manusia.

Katekese bersama umat paroki Rejeng

Katekese bersama umat paroki Rejeng

Pekerjaan sebagai petani digolongkan sebagai blue collar job atau pekerjaan kasar dengan upah yang rendah. Para petani selalu dipandang sebagai kelompok kelas bawah dalam stratifikasi social. Mereka juga seringkali diidentik dengan tidak atau kurang berpendidikan, miskin, kotor atau kumuh, kasar, dan lain sebagainya. Mungkin saja pandangan seperti ini membuat setiap orang berusaha menghindari pekerjaan sebagai petani. Orangtua yang berprofesi sebagai petani cendrung mendorong anak-anaknya untuk tidak berpikir dan merencanakan profesi sebagai petani. Orangtua tidak pernah mencita-citakan anak-anaknya menjadi petani professional, berilmu dan bermartabat. Mindset seperti ini diperkuat oleh iklan-iklan pekerjaan di televisi yang tidak pernah menampilkan mulianya pekerjaan sebagai petani. Output-output perguruan tinggi bermutu seringkali digambarkan sebagai orang-orang yang akan bekerja di kantor-kantor, manajer perusahaan-perusahaan bonafit, atau politisi. Iklan promosi perguruan tinggi tidak menampikan outputnya menjadi petani profesional dan berilmu. Karena itu, para orangtua berusaha keras agar anak-anaknya mencapai tingkat pendidikan yang paling tinggi dan dengan itu diharapkan mendapatkan pekerjaan-pekerjaan halus dan bonafit. Pada level masyarakat NTT umumnya dan Manggarai khususnya, para orangtua selalu mengharapkan anak-anaknya yang berpendidikan sarjana menjadi pegawai negeri sipil.

Kami melihat ada suatu paradoks dalam kaitan dengan cara pandang tentang petani dan pekerjaannya. Di satu sisi, banyak orang memandang petani sebagai pekerjaan rendahan dan tidak menguntungkan, namun di sisi lain, semua orang membutuhkan segala sesuatu yang dihasilkan oleh para petani. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan pangan. Semua pangan berasal dari hasil kerja para petani. Makanan-makanan yang diolah oleh perusahan-perusahaan besar maupun kecil, bahan dasarnya berasal dari hasil kerja para petani.

Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan Pastor Paroki Santa Maria Diangkat Ke Surga Ketang-Rejeng pada 10 November 2018, kami menemukan bahwa umat paroki ini pada umumnya adalah petani. Kenyataan ini memantik pertanyaan: apakah gambaran buram tentang petani di atas dialami oleh umat ini? Kami melihat bahwa umat di paroki ini juga mirip dengan gambaran tentang petani yang telah kami deskripsikan. Ada beberapa fenomen yang menunjukkan hal ini. Pertama, orangtua selalu mengharapkan anak-anak mereka yang berpendidikan tinggi bisa direkrut menjadi PNS. Kedua, beberapa orangtua senang bila anaknya bekerja di perusahan. Term perusahaan memiliki. Ada suatu fenomen yang patut direfleksikan berkaitan dengan orang-orang Manggarai yang berkeja di perusahaan perkebunan. Ada yang tidak merasa malu menjalankan pekerjaan bertani di perusahaan perkebunan, sedangkan bertani di daerah sendiri dianggap  sebagai pekerjaan rendahan. Ketiga, banyak petani yang beralih profesi menjadi pedagang kecil-kecilan. Kalau perhatikan di sepanjang jalan Negara yang terlintas di wilayah paroki ini, banyak kios-kios yang menjual buah-buahan dan bahan makanan lainnya. Apakah barang yang dijual itu dipetik dari kebun sendiri? Umumnya tidak. Barang yang dijual di kios-kios berasal dari daerah lain.

Upaya mendapatkan gambaran tentang kelompok sasaran dari kegiatan katekese ini tidak hanya berdasarkan didasarkan pada pengamatan sepintas yang kami lakukan, tetapi dilengkapi dengan wawancara yang mendalam. Setelah menyiapkan mahasiswa untuk membuat pemetaan kebutuhan umat, kami melakukan kegiatan wawawancara mendalam dengan beberapa tokoh di Paroki Ketang. Pemetaan ini berkaitan dengan upaya untuk memotret persoalan pokok yang dialami oleh umat.

Berdasarkan hasil wawancara kami dengan beberapa narasumber di Paroki Ketang. Kami merumpunkan persoalan-persoalan umat berdasarkan beberapa kategori berikut: pertama, masalah ekonomi. Hal berkaitan dengan bidang ekonomi adalah alam atau tanah tidak subur, menebang hutan secara tidak bertanggug jawab, rendahnya sumber daya manusia untuk mengelolah tanah, banyak orang senang mendapat uang dari hasil perjudian, mengharapkan bantuan dari pemerintah, ada keengganan menjadi petani, banyak orang muda suka menjadi ojek atau merantau ke daerah lain. Kedua, masalah dalam bidang politik. Dalam bidang ini, kami merekam beberapa masalah, yakni calon pemimpin tidak dinilai berdasarkan kapasitas, tetapi berdasarkan hubungan keluarga; masyarakat kurang bersikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah baik di tingkat nasional maupun di tingkat desa; kurangnya pengetahuan tentang politik; pemimpin cendrung hanya memperhatikan para pendukungnya; munculnya politik uang dalam setiap perhelatan pemilihan pemimpin. Ketiga, rendahnya pengetahuan tentang budaya; Kurangnya partisipasi kaum muda dalam pengembangan budaya; generasi muda kurang terlibat dalam kegiatan kebudayaan; dan Kurangnya antusiasme berkaitan dengan kegiatan budaya. Keempat, ada yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena kesulitan ekonom orangtua; anyak orang tidak karena keterbatasan ekonomi; ada siswa yang orangtuanya mampu tetapi anak tidak memiliki minat untuk sekolah.

Dalam bidang pastoral kategorial, kami juga ingin mengetahui perhatian pastoral terhadap para orangtua, kaum muda dan anak-anak. Dari wawancara yang kami lakukan ditemuskan bahwa pastoral khusus untuk ketiga kategori ini belum dilakukan secara serius. Para orangtua belum mandapatkan pendampingan khusus pasca menerima Sakramen Perkawinan. Demikian juga pastoral untuk kaum muda. Organisasi kaum muda yang dibentuk di paroki hanya sebatas pembentukan struktur organisasinya. Paroki belum menjadikan kaum muda sebagai agen gereja masa depan. Mereka belum dipersiapkan secara khusus untuk bagaimana menjadi anggota gereja yang tangguh dan militan di masa depan.

Berdasarkan analisis yang kami lakukan secara bersama, kami kemudian sampai pada suatu kesimpulan bahwa masalah utama kehidupan umat di paroki Ketang-Rejeng adalah masalah tanah dan panggilan hidup sebagai petani. Kurangnya pengetahuan tentang pertanian membuat mereka hanya mengandalkan kesuburan alam untuk usaha-usahanya. Dengan demikian, ketika tanah kurang subur, mereka berusaha menghindari pekerjaan sebagai petani. Tanah yang tidak subur kemudian “dikutuk” lalu orang berusaha merantau ke negeri lain untuk mencari tanah yang subur. Selain itu, dampak lain dari kurangnya kecintaan terhadap tanah adalah orang menjual tanah untuk membeli motor atau kendaraan roda. Kendaraan itu digunakan untuk ojek. Pembelian motor dengan system kredit seringkali hanya menguntungkan pihak penjual motor. Bahkan tidak jarang banyak motor yang ditarik secara secara paksa oleh pemilik lembaga perkreditan.

Kegiatan pemberdayaan umat di Paroki Rejeng dilaksanakan pada tanggal 15-17 Desember 2018. Peserta kegiatan ini adalah umat di Komunitas Basis Gerejani Paroki Rejeng.  Metode yang digunakan adalah sharing, diskusi dan pemberian contoh. Pertama, metode sharing. Dalam kegiatan katekese ini umat difasilitasi untuk mensharingkan pengalaman hidup mereka sebagai petani. Berdasarkan evaluasi bersama para fasilitator ditemukan bahwa banyak umat yang antusias mensharingkan pengalaman hidupnya sebagai petani. Meskupun demikian, ada juga umat yang kelihatannya kurang antusias mensharingkan pengalaman hidupnya sebagai petani. Bahkan ada yang mengatakan bahwa hidup kami seperti ini saja dari dahulu kala. Tanpa kami sharingkan, semua orang sudah tahu siapa itu petani dan  permasalahan serta lika-liku hidupnya. Kedua, metode dialog. Dalam kegiatan katekese ini, umat diajak untuk membicarakan masalah-masalah hidup mereka sebagai petani. Mereka juga difasilitasi untuk mendiskusikan masalah-masalah hidup mereka. Muara dari proses diskusi inia dalah mereka  semakin menyadari masalah hidupnya dan mampu menemukan solusinya sendiri atas masalah-masalah yang mereka hadapi. Ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa semakin sadar akan masalah yang mereka hadapi, mereka akan terdorong untuk melakukan protes tergadap situasi yang membelenggu mereka dan dengan itu mereka bisa merencanakan pemecahan atas masalah-masalah itu. Ketiga, pemberian contoh. Melalui kegiatan katekese ini, umat diberikan contoh petani sukses. Dalam pertemuan ini, fasilitator memperkenalkan model petanian hortikultura. Model pertanian ini dinilai cocok untuk petani-petani sederhana. Kisah-kisah petani hortikultura yang sukses diperkenalkan kepada umat agar dengan itu mereka bisa mencontohi petani-petani suskes itu.

Berdasarkan evaluasi dengan umat Paroki Rejeng pada tanggal 17 Desember 2018 ditemukan bahwa ada beberapa manfaat yang dirasakan oleh umat dari kegiatan katekese ini. Pertama,  para petani di Paroki Rejeng menjadi semakin mencintai profesi sebagai petani dan melihat pekerjaan petani sebagai sebuah panggilan hidup yang luhur. Kedua, para petani semakin mampu mengelola tanah secara bertanggung jawab. Kesadaran tentang makna tanah bagi hidup petani dan masa depannya semakin meningkat. Tanah tidak lagi dilihat sebagai objek untuk memuaskan nafsu manusia, tetapi tanah sebagai sumber ketahanan hidupnya. Ketiga, terbentuknya wadah perjuangan para petani. Kegiatan konsientisasi melalui katekese ini diharapkan menyadari pentingnya wadah perjuangan bersama untuk mengatasi masalah atau kesulitan hidup petani.

Leave A Reply