PEMBERDAYAAN AGEN DAN TRANFSORMASI MASYARAKAT OLEH: FRANSISKUS SALES LEGA, M.TH

Share

Karya misi Yesus bertujuan untuk membebaskan orang-orang dari berbagai belenggu hidup. Kelompok sasarannya tidak hanya orang-orang kecil, tertindas dan tidak berdaya, tetapi juga para pelaku penindasan, pemerasan dan perampasan hak-hak orang kecil. Kritik terhadap para penguasa tentu bertujuan untuk mengubah struktur dan pelaku dalam struktur yang cendrung menindas. Usaha ini serentak merupakan upaya pembebasan terhadap orang-orang yang menjadi korban dari penguasa. Karena itu, karya misi pembebasan yang dilaksanakan oleh Yesus bersifat universal. Dalam arti karya misi pembebasan itu ditujukan kepada semua manusia.

Hal yang menarik dari program pembebasan Yesus adalah bahwa karya misi itu bersifat partisipatif. Yesus tidak bekerja sendirian. Ia memanggil orang-orang dari kelompok tertindas dan tak berdaya itu untuk menjadi agen transformasi dan pembebasan bagi sesamanya. Ini dilakukan karena suatu pertimbangan yang mendasar bahwa mereka adalah orang-orang yang mengenal secara baik pengalaman dan situasi hidup sesamanya. Yesus yakin bahwa orang-orang yang Dia panggil untuk terlibat dalam karya misi-Nya memiliki kekuatan atau daya yang bisa digunakan untuk mentransfromasi masyarakat. Ia membentuk kelompok khusus yang kerap disebut kelompok keduabelasan. Mereka ini dibina dan dididik dengan cara melibatkan mereka secara langsung dalam seluruhh karya misi Yesus.

Dalam perspektif teori pemberdayaan ditegaskan bahwa pembebasan atau pemerdekaan orang-orang yang berdayakan menuntut beberapa hal berikut: pertama, orang yang diberdayakan harus menjadi subjek pembebasan atau pemerdekaan itu sendiri. Gagasan tentang subjek pemberdayaan berimplikasi pada peran orang-orang yang diberdayakan. Mereka harus difasilitasi untuk mampu mengungkapkan masalah-masalah hidupnya. Hal ini bermuara pada pembentukan kesadaran tentang penderitaan atau masalah yang mereka hadapi. Kesadaran akan masalah yang dihadapi diharapkan mampu memantik mereka untuk berpikir keluar dari masalah-masalah hidup mereka. Kedua, agen atau fasilitator pemberdayaan harus memandang dirinya sebabagi partner dari orang-orang yang diberdayakan. Kesadaran diri seperti ini berimplikasi terhadap sikap, peran dan cara agen pemberdayaan memperlakukan orang-orang yang diberdayakan. Kepartneran antara orang-orang yang diberdayakan dengan agen pemberdayaan terjadi kalau agen pemberdayaan itu mampu mengintegrasikan penderitaan dan harapan dari orang-orang yang diberdayakan. Itu berarti agen pemberdayaan harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang masalah yang dihadapi oleh orang-orang yang diberdayakan.

Secara historis Gereja Katolik telah menunjukkan keberpihakan terhadap orang-orang yang terdepak dan tersisih dalam masyarakat. Begitu banyak dokumen Gereja yang berbicara tentang keberpihakan itu. Rekomendasi-dekomendasi aksi-aksi konkret untuk memberdayakan kaum tersisih dirumuskan secara sangat jelas. Meskipun demikian, pada tataran konkret, aksi Gereja lebih banyak bersifat karitatif dan donatif. Agen pemberdayaan lalu berperan sebagai “tukang bagi” sembako kepada kaum miskin. Praktik seperti ini tidak menciptakan transformasi yang permanen. Praktik seperti ini justru hanya menjadikan orang miskin sebagai objek belas kasihan.

Pelatihan penyusunan bahan katekese adventus 2018

Pelatihan penyusunan bahan katekese adventus 2018

Kenyataan di atas memantik pertanyaan: mengapa karya pastoral Gereja belum efektif membebaskan umat dari penderitaan atau masalah yang dihdapi? Hemat kami persoalan ini muncul bukan pertama-tama pada umat, tetapi pada agen pastoral. Agen pastoral merencanakan program-program pastoral hanya berdasarkan persepsinya, bukan budaya berdasarkan kepentingan riil umat. Agen pastoral belum mampu masuk secara penuh dalam perjuangan orang-orang yang hendak dibebaskan. Mereka hanya melihat dari luar kalau tidak mau disebut penonton masalah umat. Kalau pun mereka terlibat dalam kehidupan umat, ketrampilan merekam persoalan umat juga menjadi suatu tantangan lain. Banyak agen pastoral yang belum memiliki ketrampilan analisis social yang mumpuni.

Program pelatihan penyusunan bahan katekese bagi  para mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi dan agen pastoral awam di Paroki Santa Maria Diangkat Ke Surga Rejeng didasarkan pada beberapa pertimbangan  berikut. Pertama, program pelatihan ini sebagai bagian utuh dari usaha mewujudkan agen pastoral yang mampu membaca dan menganalisis masalah-masalah umat. Kedua,  agen pastoral mampu membuat program pastoral berdasarkan analisis yang mendalam atas masalah masalah umat. Ketiga,  agen pastoral mampu memfalitasi karya pemberdayaan dan pembebasan umat.

Kami mengamati bahwa mahasiswa Prodi Pendidikan Teologi dan agen pastoral di Paroki Santa Maria Diangkat Ke surga Rejeng sudah biasa berkatekese di tengah Komunitas Basis Gerejani (KBG). Bahan katekese disiapkan oleh Tim Puspas Keuskupan Ruteng. Mahasiswa dan agen pastoral awam berperan sebagai fasilitator dan co-fasilitator. Sebelum turun ke KBG-KBG, mereka mendapatkan penjelasan tentang tema umum dan tema-tema turunan katekese. Selain itu, mereka juga dibagi di dalam kelompok-kelompok untuk membuat simulasi pelaksanaan katekese di tengah umat. Meskipun demikian, dari proses yang berjalan cukup lama dan kelihatan normal tanpa hambatan, muncul pertanyaan: apakah mereka mampu berkatekese kalau bahan tidak disiapkan oleh Tim Puspas atau lembaga lainnya yang berhubungan dengan karya pewartaan? Apakah tema-tema atau bahan-bahan yang disiapkan oleh tim khusus itu sungguh menyentuh persoalan utama yang dihadapi oleh umat yang menjadi kelompok sasaran katekese?

Kami mempunyai “kecemasan dan kegalauan” bahwa praktik berkatekese di atas  menghasilkan lulusan yang selalu “disuap” dari atas. Kecemasan dan kegalauan ini didasarkan pada kenyataan bahwa kegiatan-kegiatan katekese di paroki-paroki terjadi kalau ada bahan yang sudah disiapkan oleh pihak keuskupan. Bila bahan katekese tidak disiapkan maka katekese juga tidak dilaksanakan. Berdasarkan pengalaman mendampingi mahasiswa yang berkatekese di tengah komunitas basis gerejani,  kami mengamati bahwa  mahasiswa tertentu mengalami kesulitan dalam memafasilitasi umat. Mereka cendrung hanya membaca bahan yang disipakan sehingga katekese menjadi kaku dan kering. Kami menengarai bahwa hal ini disebabkan karena mahasiswa sendiri tidak terlibat dalam proses penyusunan bahan katekese. Mereka tidak dilibatkan dalam memotret kebutuhan umat lalu direfleksikan secara kritis. Mereka hanya menjadi pengguna bahan yang sudah dihasilkan oleh orang lain.  Impaknya adalah bahan itu menjadi sesuatu yang asing bagi mereka.

Pelatihan penyusunan bahan katekese dimaksudkan agar mahasiswa dan agen pastoral awam di Paroki Rejeng memiliki enam ketrampilan berikut. Pertama, kemampuan membuat pemetaan umat. Pemetaan umat adalah usaha menggambarkan situasi nyata apa yang dipikirkan, diperbincangkan, dan dikerjakan dalam jemaat. Dalam kaitan dengan ini, seorang katekis hendaknya memiliki pengetahuan tentang tujuan pemetaan jemaat, sikap dasarnya sebagai pemimpin jemaat, pokok-pokok pemetaan, metode pemetaan. Kedua, kemampuan analisis jemaat. Menganalisis jemaat berarti mengkaji hasil pemetaan jemaat dengan tujuan mempelajari bagian-bagian yang ada dalam jemaat. Tujuan analisis jemaat adalah mencegah pemimin jemaat bertindak gegabah dalam menerapkan suatu konsep pengelolaan dan pemberdayaan jemaatnya. Analisis ini berguna untuk mencegah pemimpin jemaat meniru kegiatan yang dia peroleh dari suatu pelatihan tertentu. Dalam menganalisis jemaat, pemimpin jemaat mengenali dan mempelajari kebutuhan dan masalah yang ada di dalam jemaatnya, membuat skala prioritas, merencanakan jalan keluar menjawab kebutuhan dan masalah jemaat. Ketiga, penetapan visi dan misi.  Berdasarkan pemetaan masalah dan analisis yang mendalam atas masalah, katekis mampu memfasilitas jemaat untuk merumuskan visi dan misi hidup mereka. visi sebagai gambaran perubahan masa depan dari kenyataan masalah yang dihadapi saat ini. Keempat, mampu membuat program perencanaan berasarkan prioritas visi dan misi.  Mereka dilatih untuk menyusun program yang mampu mewujudkan visi itu. Dalam konteks ini, mahasiswa diharapkan mampu menyusun bahan katekese umat berdasarkan analisis masalah utama. Kelima, mahasiswa memiliki ketrampilan untuk melakukan aksi bersama umat  sebagai wujud konkret dari komitmen yang dibangun dalam kegiatan katekese . Keenam, mahasiswa mampu melakukan evaluasi atas kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan. Evaluasi ini merupakan hal yang penting yang tidak boleh diabaikan dalam kegiatan pastoral. Ini adalah kesempatan untuk melihat ke masa lalu dan menenun rencana-rencana baru berdasarkan kritik terhadap masa lalu. Dengan demikian pembaharuan akan selalu terjadi.

Kegiatan pelatihan ini adalah bagian dari upaya untuk mewujudkonkretkan salah satu gagasan emas Konsili Vatikan II, dalam Gaudium et Spes: “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid kristus juga. Tiada suatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergemba di hati mereka”. pelatihan ini dimaksudkan agar para agen pastoral harus empati dan solidaritas terhadap orang-orang yang dilayani. Empati dan solidaritas dapat diwujudkan melalui programa pastoral yang relelvan dengan permasalah yang mereka hadapi.

Kami menyadari bahwa para katekis mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam kehidupan gereja. Gereja tidak mungkin hidup dan berkembang tanpa kehadiran dan peran katekis. Para katekis memperkenalkan iman akan Allah dalam diri Yesus Kristus kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus dan bagi mereka yang sudah mengenal kristus, para katekis membantu memperdalam iman mereka agar mereka menghayati imannya dengan cerdas. Melalui katekese manusia menafsirkan hidupnya dalam terang sabda Allah, sehingga penyelamatan dan pembebasan secara nyata dapat dirasakan. Hal ini terwujud kalau katekis memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam memfasilitasi karya pembebasan di tengah umat manusia.

Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 12 November- 11 Desember 2018. Ada empat kegiatan utama. Pertama, memberikan input tentang katekese dan jati diri katekis dalam karya pewartaan gereja. Ini dilakukan dengan metode ceramah. Tim pelatih mensharingkan pengetahuan tentang hakikat katekese, arahnya dan peran katekis dalam kegiatan katekese itu.  Kedua, memberikan pelatihan membuat pemetaan kehidupan umat. Metode yang digunakan adalah leaning by practice.  Mahasiswa dipekenalkan model-model pemetaan jemaat dan mereka dilibatkan untuk menerapkan model-model itu. Dalam konteks pelatihan ini, model yang digunakan adalah indeepth interview. Mahasiswa dilatih menyusun bahan wawancara dan mempraktikkan wawancara dengan umat. Ketiga, pelatihan membuat analisis social. Kegiatan ini melibatkan para ketua KBG dan Warga KBG. Kegiatan ini dimulai penguatan konsep tentang analisis social lalu disusul dengan latihan praktis membuat analisis social. Keempat, kerja Kelompok. Peserta pelatihan dibagi ke dalam dua kelompok. Masing-masing kelompok dibimbing oleh satu orang dosen. Kerja kelompok ini berkaitan dengan penyusunan bahan katekese. Kegiatan pelatihan ini menghasilkan bahan katekese untuk kegiatan pembinaan umat pada masa adventus.

Pada akhir kegiatan pelatihan ini, kami mengadakan evaluasi. Evaluasi dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2018. Berdasarkan evaluasi bersama peserta pelatihan ditemukan hal-hal sebagai berikut. Pertama, pada level kesadaran akan peran sebagai agen pastoral, para peserta pelatihan menyatakan bahwa dengan pelatihan ini mereka menjadi semakin sadar bahwa karya pemberdayaan umat membutuhkan pemahaman yang memadai tentang jati diri sebagai pemberdayaan umat. Mereka menjadi semakin sadar bahwa tugas sebagai pastoral itu sangat mulia. Mereka melihat diri mereka sebagai bagian yang tak terpisahkan dari karya misi Yesus. Kedua,  kegiatan pelatihan ini membuat mereka mampu mengetahui akar terdalam masalah yang dihadapi oleh umat. Ini didapatkan berkat adanya pelatihan ketrampilan analsisis social. Melalui pelatihan ansos, mereka turun ke tengah umat, berdiskusi dan merekam persoalan hidup umat, mencari sebab terdalam masalah yang mereka hadapi. Dengan ini, mereka mampu menentukan program pastoral yang cocok untuk membebasakan umat dari masalah hidupnya. Ketiga, melalui pelatihan ini, para mahasiswa dan agen pastoral Paroki Rejeng mampu menghasilkan bahan katekse. Dari analisis masalah umat ditemukan bahwa salah satu masalah utama yang dihadapi oleh umat Paroki Rejeng adalah kurangnya kesadaran akan makna panggilan sebagai petani dan minimnya pengetahuan dan ketrampilan hidup sebagai petani. Karena itu, tema bahan katekesenya adalah tanah dan panggilan hidup petani.  Tema umum ini lalu dijabarkan ke dalam dua subtema, yakni pertama, panggilan hidup petani. kedua, tanah dan kreativitas petani. Bahan ini pada waktu pembinaan umat pada masa Adventus di Paroki Rejeng.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Firmanto, Antonius Denny. 2004. Pengelolaan dan Pemberdayaan Jemaat. Malang: Dioma.

Putranto, Carolus, dkk., 2016. Ilmu Kateketik dan Identitasnya. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Utama, Ignatius L. Madya. 2018. Menjadi Katekis Handal di Zaman Sekarang. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Leave A Reply