PEMBENTUKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DI ERA POST-TRUTH OLEH: FRANSISKUS SALES LEGA, M.TH

Share

 

Manusia adalah makhluk yang berakal budi, berkehendak dan berkebebasan. Ini adalah triade eksistensial manusia. Triade ini memungkinkan adanya transformasi sepanjang sejarah hidup manusia. Manusia tidak pernah berhenti berpikir. Dengan akal budinya manusia mampu memecahkan persoalan-persoalan hidupnya. Dengan akal budinya, manusia mampu menyibak dan menyingkap misteri diri dan dunianya. Dengan akal budinya, manusia mampu menemukan kebenaran-kebenaran yang mengarahkan tujuan hidupnya. Kehendak dan kebebasan yang ada di dalam diri manusia memungkinkan manusia terarah kepada nilai-nilai. Dengan kehendak dan kebebasan yang yang ada di dalam dirinya, manusia mampu menentukan dirinya berdasarkan kebenaran-kebenaran yang diketahuinya.

Sekretaris Prodi Menyerahkan hadiah

Sekretaris Prodi Menyerahkan hadiah

Ketika para filsul kosmologis Yunani merasa tidak puas dengan jawaban-jawaban atas masalah-masalah hidup manusia berdasarkan mitologi-mitologi, mereka mulai melakukan penelitian-penelitian empiris yang sederhana. Mereka berusaha memanfaatkan akal budinya untuk mencari jawaban-jawaban rasional. Inisiasi mereka untuk mencari jawaban atas persoalan hidup manusia dengan memanfaatkan kemampuan akal budi lalu diteruskan sepanjang sejarah. Perkembangan dan kemajuan hidup manusia terjadi karena manusia selalu berusaha menggunakan akal budinya.

Agustinus dan Rene Descartes menegaskan bahwa berpikir adalah hal yang sangat fundamental bagi manusia. Berpikir menegaskan eksistensi dan kekhasan manusia sebagai manusia. Tesis terkenal dari Descartes adalah cogito ergo sum atau aku berpikir maka aku ada. Bagi Agustinus, berpikir adalah tanda bahwa manusia hidup. Immanuel Kant juga menegaskan hal yang sama bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Kant menegaskan bahwa manusia harus bangkit dari ketidakmandirian berpikir. Manusia tidak boleh menerima begitu saja pernyataan, kesimpuan atau teori yang disampaikan oleh orang lain, tetapi manusia harus mampu berpikir mandiri. Hal yang sama ditandaskan oleh filsuf kontemporer Karl Raimund Popper. Popper menyatakan bahwa setiap kebenaran itu bersifat hipotetis. Melalui konsep falsifikasinya, Popper menegaskan bahwa setiap teori ilmiah memiliki kemungkinan untuk salah. Dengan konsep falsifikasi ini Popper mau menegaskan bahwa setiap kebenaran yang diterima harus didasarkan atas pertimbangan yang kritis. Orang tidak menerima begitu saja teori atau kebenaran yang disampaikan oleh orang lain, tetapi orang harus membuktikan kebenaran yang diterimanya.

Dengan akal budinya manusia mampu menciptakan teknologi-teknologi baru yang mampu meningkatkan peradaban manusia. Kemajuan teknologi memungkinkan manusia mengalami perubahan hidup. Perubahan hidup itu bisa positif, bisa juga negatif. Karena itu, kemajuan teknologi itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, kemajuan teknologi membuat hidup manusia menjadi lebih baik, tetapi di sisi lain temuan teknologi bisa merusak kehidupan manusia itu sendiri ketika kemajuan teknologi itu disalahgunakan.

Internet adalah salah satu tenemuan yang sangat spektakuler dalam kehidupan manusia. Teknologi internet telah mengubah seluruh bidang kehidupan manusia. Internet telah membuat mausia hidup dalam semacam sebuah “perkampungan global”. Pada tataran relasi social, internet telah mengubah model-model relasi klasik dan tradisional yang hanya dibatasi oleh hubungan genealogis, budaya, bahasa, dan jarak ke model relasi social yang tanpa batas. Dengan internet, orang bisa beteman dan berelasi dengan siapa saja di seluruh dunia. Bahkan orang yang tidak mengerti bahasa asing pun bisa berteman dengan orang asing. Facebook, misalnya, telah membuat orang di dunia ini menjadi semacam “satu keluarga”. Melalui media social, orang dengan mudah membagikan sesuatu yang terjadi dalam hidupnya kepada orang lain. Media social juga digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti politik, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya. Dalam bidang politik, misalnya, banyak politisi memanfaatkan media social untuk memengaruhi konstituen politiknya. Ideologi-ideologi dengan mudah disebarluaskan dan diterima oleh para pengguna media social. Dalam bidang ekonomi, internet memungkinkan mode baru dalam berbisnis. Orang bertransaksi tanpa harus bertemu secara langsung. Banyak unit bisnis yang dikembangkan dengan memanfaatkan jaringan intenet. Demikian juga dalam bidang pendidikan. Internet memudahkan para peserta didik mendapatkan ilmu pengetahuan. Orang bisa merambah aneka pengetahuan. Ruang kelas bukan lagi menjadi satu-satunya tempat bagi siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Demikian juga guru. Guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan bagi siswa. Bahkan dengan adanya internet, para siswa bisa melampaui gurunya dalam hal penguasaan pengetahuan sejauh para siswa memiliki akses yang memadai ke internet. Selain itu, orang bisa dengan mudah mensharingkan gagasannya kepada orang lain melalui internet. Siap saja bisa  menggunggah pemikiran-pemikirannya di dalam internet. Dalam bidang agama, para penyebar agama tidak lagi hanya mengandalkan model-model klasik dalam misi keagamaan, tetapi juga memanfaatkan internet. Para pemimpin agama menyadari bahwa umat yang paling banyak sekarang berada dunia maya atau cyber space. Karena itu, para penyebar agama juga harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara mengoperasikan internet sehingga dengan itu mereka bisa menjumpai pengikutnya di duia maya.

Narasi positif tentang kemanfaatan internet bagi hidup manusia di atas tentu tidak menafikan sisi negatifnya. Dalam bidang politik misalnya, para politisi cendrung memanfaatkan media social untuk melakukan black campaign, hate speech, hoax, fake news tentang lawan politik. Media social dijadikan sebagai sarana mempromosikan keberhasilan-keberhasilan dan keunggulan-keunggulan fiktif yang ada di dalam diri. Media social digunakan untuk brain wash agar ideologi-ideologi lebih mudah diterima oleh kelompok sasaran. Dalam bidang pendidikan, banyak informasi atau pengetahuan yang diunggah ke internet yang tidak benar. Gagasan yang diunggah seringkali tidak dilandasi bukti-bukti yang valid. Setia orang bisa membuat blog atau website. Melalui blog atau websitenya, orang yang bersangkutan bisa mengunggah apa saja. Meskipun internet itu canggih, namun internet tidak mampu memfiltrasi mana yang benar dan salah. Para siswa dan mahasiswa seringkali memanfaatkan internet untuk mengerjakan tugas-tugas mata pelajaran atau mata kuliah. Dalam konteks ini, data-data dari internet seringkali diambil begitu saja tanpa pertimbangan kritis. Kebenaran bahan-bahan atau pengetahuan dari internet seringkali tidak didekati dengan kecurigaan, sikap kritis, tanpa pertanyaan.

Generasi milenial yang hidup di era digital  ditantang untuk memanfaatkan teknologi digital secara kritis. Pemanfaatan teknologi digital tanpa sikap kritis tentu berdampak buruk terhadap eksitensi generasi milenial itu sendiri. Membanjirnya informasi atau pengetahuan melalui teknologi digital tentu harus seimbang juga dengan kemampuan berpikir kritis manusia untuk memilah dan memilih informasi yang benar yang bisa menopang eksistensinya. Tantangan terberat di era milenial ini adalah penerimaan informasi tanpa sikap kritis. Orang-orang yang membaikan informasi atau pengetahuan melalui internet seringkali tidak bisa diklarifikasi.

Generasi melinial hidup di era pasca-kebenaran atau post truth. Era ini ditandai oleh membanjirnya informasi di jagat maya dan banyak orang mencari referensi dalam dunia digital. Post truth era ditandai oleh menipisnya perbedaan antara kenenaran dan kepalsuan, bahkan kepalsuan dianggap kebenaran, sedangkan kebenaran dianggap kepalsuan. Banyak orang mengabaikan fakta dan objektivitas. Sesuatu diterima berdasarkan emosi. Setiap orang dengan mudah memproduksi informasi dan menyebarkan informasi yang diproduksinya. Pembagian informasi kepada public seringkali tidak mempertimbangkan aspek etis dan ilmiah. Tanggung jawab etis dan ilmiah terhadap informasi atau pengetahuan yang dibagikan kepada public diabaikan. Identitas diri pun dengan mudah disembunyikan atau dimanipulasi dalam jagat maya. Dengan orang yang menerima informasi tidak dapat melakukan cross-check pada sumbernya. Akun media social, nama blog dan website juga seringkali manipulative.

Kegiatan perlombaan kuis kitab suci, menarasikan kisah dalam kitab suci dan menyanyikan mazmur yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Teologi untuk para siswa/i di Kecamatan Langke Rembong dan Kec Ruteng dimaksudkan untuk mendidik siswa berpikir kritis, mendasarkan pengetahuan pada sumber-sumber yang kredibel dan memupuk kecintaan kepada kebenaran. Kegiatan perlombaan ini dilaksanakan pada tanggal 18-20 Oktober 2018. Melalui sharing dengan beberapa siswa dan guru pendamping peserta perlombaan, kami menemukan bahwa kegiatan perlombaan ini sangat bermanfaat bagi mereka. Kegiatan perlombaan ini mendorong mereka untuk mencinta kitab suci sebagai salah satu sumber kebenaran.  Dengan perlombaan ini mereka menjadi semakin sadar bahwa pengetahuan yang benar harus didapatkan dari sumber-sumber yang krebel.

Problem pendidikan kita di Indonesia adalah kurangnya ikhtiar untuk memotivasi dan memfasilitasi peserta didik menjadi pribadi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, menghendaki kebaikan  dan mengoptimalkan kebebasan untuk mendeterminasi diri.  Praktik pendidikan kita belum memampukan peserta didik untuk berani membongkar, memilah dan menjernihkan segala sesuatu yang diterima untuk penjadian dirinya. Pembongkaran memungkinkan kita melihat dan mengerti dengan jelas segala sesuatu yang membentuk atau mengonstruksi sesuatu seperti teori, kepercayaan, kebiasaan, dan lain sebagainya. Pembongkaran yang teliti dan kritis memungkinkan kita untuk memilah apa yang esensial dari yang aksidental, apa yang hakiki dari yang hanya merupakan asesoris. Pemilahan yang tepat memungkinkan kita menjernihkan yang masih kabur atau kurang jelas dari suatu teori atau gagasan. Karena itu, kecerdasan peserta didik yang ditakar dengan syarat-syarat yang sangat minimalistis: kesesuaian jawaban siswa dengan jawaban yang disiapkan dosen atau guru, kesetian mengumpulkan tugas bukannya mempertanggunjawabkan isi dari tugas sehingga tugas siswa atau mahasiswa hanya menambah tumpukan kertas atau buku tugas di meja atau rumah guru dan dosen, kesetiaan mengikuti kuliah meskipun hanya hadir sebagai peserta yang pasif, dan lain-lain harus dibongkar. Ketidakmampuan membongkar, memilah dan menjernihkan membuat banyak orang di negeri ini mudah digiring, dihasut dan diprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan destruktif. Apalagi kalau orang yang menggiring, menghasut, dan memprovokasi memiliki otoritas, gelar akademik yang begitu banyak, dan uang maka orang akan dengan mudah mengikutinya.

Pendidikan yang sejati harus membantu manusia untuk berpikir kritis. Dengan kemampuan berpikir kritis manusia tidak memandang dan merasakan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya sebagai beban atau manusia tidak menjadikan dirinya sebagai sarana untuk menampung ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dari berbagai sumber.  Generasi milenial yang hidup di era post truth ini hendaknya memupuk kesadaran dan ketrampilan berpikir kritis. Dengan mereka tidak menjadi budak informasi yang tersebar melalui media digital, tetapi menjadi tuan atas informasi atau pengetahuan yang ada. Dalam arti bahwa mereka mampu menentukan mana berita atau pengetahuan yang diterima dan mana berita atau pengetahuan yang harus ditolak.

 

***********************************************************

Leave A Reply