ERA – PASCA KEBENARAN, KEKRISTENAN DAN TANTANGAN PEWARTAAN (Kuliah Umum Dr. Maksimus Regus bagi warga Program Studi Pendidikan Teologi)

Share

Apakah agama masih relevan dalam memberi jawaban untuk menghadapi tantangan-tantangan yang diberikan oleh dunia? Pertanyaan ini diungkapkan oleh Kanisius Theobaldus Deki, M.Th selaku moderator dalam kuliah umum yang diberikan oleh Dr.Max Regus, yang bertempat di aula Van Roosmalen STKIP St.Paulus Ruteng, pada hari Jumat, 16 Maret 2018.

Kuliah umum ini dihadiri oleh RD. Geradus Janur, ketua Yayasan St.Paulus, Bapak Marsel Ruben Payong selaku Puket I, RD.Inno Sutam selaku Puket III, P.Oswaldus Bule,SVD selaku Ketua Program Studi Pendidikan Teologi dan Fransiskus Sales Lega,M.Th sebagai dosen STKIP St.Paulus Ruteng  serta mahasiswa-mahasiswi dan alumni Prodi Pendidikan Teologi. Kuliah ini dikemas dalam tema Era – Pasca Kebenaran, Kekristenan, dan Tantangan Pewartaan.

Dr. Marsel Ruben Payong dalam kata sambutan sekaligus membuka dengan resmi kuliah umum tersebut mengatakan bahwa pembahasan topik Era Pasca – Kebenaran, tepat dan relevan  karena memberikan penyegaran bagi katekis dan katekista zaman sekarang.

“Kita hidup di era revolusi teknologi yang keempat yakni teknologi digital. Oleh karena itu, kehadiran Rm.Max sungguh sangat relevan dan menyenangkan, karena memberi inspirasi bagi kita untuk menanggapi tantangan zaman ini. Kami berterima kasih kepada Romo Maksimus Regus yang berkenan memberikan kuliah umum bagi warga program studi Pendidikan Teologi” demikian kata Pembantu Ketua 1STKIP St.Paulus Ruteng.

Selanjutnya Dr.Maksimus Regus mengawali presentasi makalahnya dengan memberikan gambaran mengenai kehidupan religius di Eropa yang semakin jauh dari nilai-nilai Kekristenan, dan hidup dalam era Post-Truth. Pada era pasca kebenaran ini, sikap kritis menjadi lumpuh, fantasi diterima sebagai fakta, bangunan sosial rapuh, kebohongan menjadi pekerjaan, dan penipuan menjadi habit. Ironisnya, hal ini terjadi juga dalam lingkungan kekristenan.

Fake news merupakan tantangan riil di depan mata, namun tidak boleh menjadi pasung yang merintangi kita mewartakan kebenaran iman. Kendati kebenaran sering dibelokkan, kita tidak perlu takut untuk terus melaksanakan tugas pewartaan setiap hari dengan tenang, dalam doa terus-menerus sambil mengandalkan penyertaan Tuhan.” , demikian pernyataan alumnus Universitas Indonesia dan External Fellow University of Tilburg Belanda.

“Kita perlu menjaga diri terhadap arus kebenaran dengan dua nilai kebajikannya yakni: akurasi dan kejujuran”, imbuh Imam Diosesan Keuskupan Ruteng ini.

Dosen STKIP St.Paulus ini menegaskan bahwa Fake news menghadirkan tantangan untuk menyusun kurikulum pewartaan dengan merumuskan ulang pengalaman akan Tuhan, mengisi ruang digital, mencocokkan apa yang kita katakan dengan kenyataan, dan menempatkan nilai Kekristenan dalam konteks krisis kemanusiaan.

Salah satu alumni Prodi Pendidikan Teologi, Melania Cici S. Ndiwa yang hadir pada kuliah ini  menyatakan bahwa ia sangat senang dan merasa diperkaya dalam kuliah ini.

“Kuliah ini memampukan saya untuk melihat nilai-nilai kekristenan pada era sekarang khususnya nilai-nilai kebenaran dalam masa prapaskah”, demikian penulis buku puisi Penyair Bukan Kami.

 

Peliput: Tomas Morus Runesi

Editor. P.Oswaldus Bule, SVD

Leave A Reply