STKIP Santu Paulus Pelopori Pengembangan Kampung Ramah Anak Pertama di Kabupaten Manggarai

Share

Persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan yang menyangkut hak asasi manusia yang melekat dalam diri anak masih menjadi persoalan utama yang terjadi dalam berbagai kelompok masyarakat termasuk dalam lingkungan masyarakat Manggarai. Sejak tahun 2002 sampai dengan 2017 telah terjadinya 3.621 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayah NTT. Dalam dua tahun terakhir kasus ini mengalami penurunan, yaitu dari 327 kasus (2016) ke 320 kasus (2017), akan tetapi angka tersebut masih terhitung tinggi dan menempatkan NTT sebagai provinsi ke-5 dengan angka kekerasan  tertinggi terhadap anak dan perempuan

            Di wilayah Manggarai sendiri, dalam 3 tahun terakhir, angka kekerasan terhadap anak meningkat secara signifikan. Media-media masa memuat berita-berita terkait kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang tua kandung terhadap anaknya dan menyita perhatian banyak pihak Salah satu kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak terjadi pada bulan Oktober 2018, dimana seorang ayah memperkosa anak kandungnya hingga berkali-kali hingga merekamnya dengan telepon selular. Sebelumnya, ada tahun 2017, kasus kekerasan lainnya juga terjadi, dimana seorang ayah tega memperkosa anak kandungnya sendiri hingga berkali-kali yang menciptakan kecemasan dan keprihatinan bagi banyak pihak termasuk STKIP Santu Paulus Ruteng sebagai perguruan tinggi.

Hingga saat ini, belum ada upaya serius yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait untuk melindungi anak dan hak-haknya melalui kebijakan-kebijakan perlindungan anak yang sesuai dengan kebutuhan masa ini. Kasus-kasus kekerasan ini terjadi karena berbagai faktor, termasuk karena kurangnya pemahaman orangtua tentang pentingnya memenuhi hak-hak dasar anak. Kurangnya kerjasama antara orang tua dan pihak terkait dalam upaya pemenuhan hak-hak anak serta belum adanya kebijakan khusus dari pemerintah setempat terkait pemenuhan hak-hak anak juga menjadi salah satu faktor pemicunya.

Keprihatinan inilah sesungguhnya yang mendorong Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Santu Ruteng untuk menggagas suatu gerakan Ramah Anak yang bertujuan memberikan edukasi bagi anak dan orang tua agar menyadari hak-hak dasar anak dan mengapa hak-hak tersebut harus dipenuhi. Kegiatan ini merupakan Program Pengabdian Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan atas kerjasama LPPM STKIP Santu Paulus Ruteng dan Pemerintah Kelurahan Mbaumuku. Kegiatan ini diketuai oleh salah seorang dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris atas nama Yosefina Rosdiana Su, S.S.,M.Pd dan melibatkan 9 orang dosen lainnya beserta 10 orang mahasiswa. Program PKM yang dikemas sebagai sebuah pendampingan edukatif dalam upaya pemenuhan hak-hak anak di kelurahan Mbaumuku, Kabupaten Manggarai, NTT yang diisi dengan berbagai kegiatan edukatif yang melibatkan orangtua dan anak. Melalui kegiatan ini, wilayah Hombel kini telah menjadi kampung ramah anak pertama di Kabupaten Manggarai yang memiliki kebijakan Ramah Anak.

Leave A Reply