Prodi PGSD STKIP Santu Paulus Menggelar seminar Ilmiah

Share

Guru yang profesional adalah guru yang berkompeten dalam dunia pendidikan.

Ruteng, STKIP- Mahasiswa Tingkat dua dan tiga Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng mengikuti Seminiar ilmiah Prodi PGSD. 

Profesi sebagai guru bukan menjadi indikator utama dalam dunia pembelajaran di Sekolah Dasar (SD) di Manggarai melainkan kualitas penerapan pengetahuan yang dimiliki terhadap peserta didik.

Kesuksesan pendidikan peserta didik erat kaitannya dengan kompetensi yang dimiliki oleh tenaga pendidik. Untuk itu perguruan tinggi wajib menjawab setiap tantangan dan masalah penerapan kurikulum 2013 dan mutu pendidikan peserta didik.

Menjawabi permasalahan kualitas pendidikan dan penerapan kurikulum 2013 di Manggarai, Kamis (14/3/2019), bertempat di Aula Missio STKIP Santu Paulus Ruteng program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) melaksanakan seminar Ilmiah yang bertajuk pada “Problematika Penerapan Kurikulum 2013 dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar di Manggarai”

Peserta Seminar
(Foto Oleh: Selvianus Hadun)

Tercatat sekitar 576 mahasiswa PGSD hadir dan berpartisipasi aktif dalam seminar tersebut. Peserta seminar adalah mahasiswa PGSD tingkat satu dan tingkat dua.

Ketua Panitia Seminar, Arnoldus Helmon, M.Pd. saat memberikan sambutan.
(foto oleh: Selvianus Hadun)

Arnoldus Helmon, Ketua pelaksana Seminar Ilmiah, dalam sambutanya mengatakan bahwa realitas menunjukan begitu banyak  persoalan, masalah, kesulitan yang dialami para guru di Manggarai dalam menajalankan kuriulum 2013.

“PGSD sebagai salah satu program studi di STKIP Santu Paulus yang menghasilkan guru-guru SD memiliki tanggungjawab dalam mengatasi masalah tersebut” ungkap Arnoldus .

Beliau melanjutkan bahwa dengan adanya seminar tersebut dapat memberikan pencerahan serta menemukan solusi terhadap permasalahan penerapan kurikulum 2013 di SD di Manggarai.

Ketua Program Studi PGSD, Mikael Nardi,M.Pd. Saat memberikan sambutan.
(Foto oleh: Selvianus Hadun)

Ketua  program Studi PGSD, Mikael Nardi, M.Pd.  mengatakan bahwa menjadi guru yang professional adalah guru yang mempunyai tiga kompetensi; kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.

Beliau juga mengatakan bahwa guru yang professional adalah guru yang mampu dan berkompeten dalam dunia pendidikan.

“menjadi guru yang siap untuk terjun ke dunia kerja dalam hal ini dunia pendidikan”kata Mikael.

Selanjutnya dia mengatakan, seminar ini bertujuan untuk membekali mahasiswa sebagai calon guru dengan kurikulum 2013.

Hadir dalam seminar tersebut dua pemateri; Florianus Dus Arifian, M.Pd. dan Yohanes W. Dasor, S.Fil.,M.Pd.

Dalam pemamparan materi, Flori menjelaskan bahwa ada tiga kecakapan yang perlu dikembangkan melalui kurikulum 2013; kualitas karakter, kompetensi, dan literasi dasar.

“Adapun  point-point penting yang tercakup dalam kualitas dasar adalah iman dan taqwa, cinta tanah air, rasa ingin tahu, inisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi kepemimpinan, dan kesadaran sosial dan budaya. Pada kecakapan kompetensi tercakup berpikir kritis, mampu memecahkan persoalan, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi”jelas Flori.

Sedangkan pada literasi dasar Flori mengatakan bagaimana menerapkan keterampilan inti untuk kegiatan sehari-hari seperti literasi bahasa dan sastra, literasi numeracy, literasi sains, literasi digital, literasi keuangan dan literasi budaya dan kewarganegaraan.

Menurut Flori, jika tanaga pendidik memiliki semua kecakapan itu maka penerapan kurikulum 2013 tidak akan memiliki masalah. Demikianpun juga dengan peserta didik akan lebih terjamin kualitas pendidikan yang mereka peroleh.

Sementara Wendy lebih menekankan pada aspek peninjauan filosofis kurikulum 2013 dan problematika dalam penerapannya di kabupaten Manggarai.

Panitia Seminar: dari kiri ke kanan Yohannes Maryonno Jamun, M.M., Marselinus Robe, M.Pd., Yohanes W. Dasor, S.Fil.,M.Pd., (Pemateri II), Yovani Angelina (Moderator), Arnoldus Helmon, M.Pd., Florianus Dus Arifian, M.Pd., (Pemateri I), pose bersama setelah seminar.
(foto oleh: Selvianus Hadun)

Wendy, dalam pemamparan materinya menjelaskan problematika kurikulum 2013 di kabupaten Manggarai dalam tinjauan filsafat progresivisme dan perenialisme.

“Bagi progresivisme sekolah ditujukan untuk kepentingan anak, pendidikan  harus  dipandang  dari  sudut  pandang  anak  didik,  bukan  sudut  pandang orang dewasa”  ungkap Wendy.

Wendy juga mengatakan bahwa anak  didik  bukan  manusia  dewasa  dalam  tubuh  kecil,  anak  bukanlah miniatur orang dewasa, tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri, di mana kehidupannya berbeda dengan orang dewasa.

“Olehnya itu dalam kurikulum progresivisme belajar dengan berbuat (learning by doing), yaitu apa yang dipelajari bisa dipraktekkan di lapangan, di laboratorium, ataupun di kebun”kata Wendy.

Wendy juga melanjutkan bahwa menggunakan metode “pemecahan masalah” (problem solving) yaitu murid diajarkan agar mampu menguraikan masalah sekaligus menyelesaikannya.

Menurut Wendy, jika diterapkan dengan dua pandangan tersebut; pandangan filosofis progresivisme dan perenialisme dapat memecahkan persolaan penerapan kurikulum 2013 di kabupaten Manggarai. (Admin***)