PKM PENGEMBANGAN KREATIVITAS SENI KAUM MUDA

Share

Masa depan bangsa Indonesia ditentukan oleh para generasi muda saat ini. Baik-buruknya/berhasil tidaknya pembangunan bangsa di masa depan ditentukan oleh kualitas kaum muda masa kini. Kaum muda umumnya punya jiwa muda dan semangat muda. Kaum muda adalah generasi yang memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Hanya saja perlu ada rangsangan agar potensi tersebut dapat berkembang secara maksimal.Maka upaya untuk melakukan pengembangan berbagai potensi yang ada dalam diri kaum muda itu penting dan mendesak.


Baca juga: GERAKAN PRAMUKA BUTUH WAWASAN KEPRAMUKAAN

Kenyataannya adalah banyak fenomena yang terjadi di sekitar kita bahwa kaum muda seringkali acuh tak acuh untuk mengembangkan potensi kreatif mereka. Mereka menjadi generasi muda yang pasif dan monoton. Padahal kehadiran globalisasi, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya, menuntut kaum muda untuk kreatif. Mengapa kaum muda harus kreatif? Karena kreatifitas akan memampukan/memunculkan kemampuan menyelesaikan masalah dan menciptakan inovasi-inovasi yang berguna. Kemampuan seperti ini amat sangat dibutuhkan dalam dunia globalisasi yang semakin kompleks dan kompetitif.
Fenomena banyaknya kaum muda yang pasif sering ditemukan di wilayah pedesaan. Mereka menjadi generasi yang hidupnya monoton, kurang kreatif dan seakan tidak tersentuh derasnya pengaruh globalisasi. Kreativitas menjadi sesuatu yang asing bagi mereka. Padahal mereka adalah aktor kunci dalam menentukan maju-mundurnya/berhasil tidaknya kemajuan pembangunan bangsa di wilayah pedesaan.


Baca juga: VERVAL BDT DESA RADO: SAATNYA MEMBANGUN DESA BERBASIS DATA

Untuk mengatasi persoalan tersebut maka kreativitas kaum muda perlu dirangsang/diberdayakan. Maka tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), PGSD STKIP Santu Paulus, menawarkan salah satu upaya untuk merangsang/memberdayakan kreativitas kaum muda di salah satu wilayah pedesaan di Manggarai Barat, yakni Stasi Lewat, Desa Bangka Lewat, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat. Nusa Tenggara Timur. Kegiatan berlangsung mulai tanggal 23-26 Desember 2018. Kegiatan ini sekaligus dalam rangka memeriahkan perayaan Natal 2018 yang dipusatkan di stasi tersebut.

Inti dari PkM tersebut adalah mendorong/merangsang kaum muda mengembangkan bakat/talenta/minat mereka. Fokus bakat/minat/kreativitas yang dikembangkan/diberdayakan adalah kreativitas dalam bidang seni: seni musik, seni tari, seni sastra, dan seni drama. Tim PkM
PGSD STKIP Santu Paulus, yang adalah fasilitator kegiatan, mendorong/mendukung kaum muda untuk terlibat.


Baca juga: Pengembangan Karakter Anak Melalui Kegiatan Peningkatan Kesadaran akan Kebersihan Diri dan Lingkungan

Adapun tahap-tahap pelaksanaan kegiatan tersebut, yakni persiapan, simulasi/latihan, dan pelaksanaan/pentas seni. Pada tahap persiapan, tim PkM menentukan rangkaian acara pementasan, menentukan waktu dan tempat pementasan,menyiapkan panggung untuk pentas, menyiapkan peralatan, dan menentukan petugas yang menjadi fasilitator kegiatan. Pada tahap simulasi/latihan, tim PkM, melakukan simulasi bersama untuk semua acara-acara yang akan dipentaskan. Kegiatan simulasi dipandu ketua PkM dan dibantu oleh tim PkM dari PGSD. Kegiatan simulasi dipisah dalam kelompok kecil sesuai dengan bidang masing-masing. Ada kelompok menari, kelompok menyanyi (solo dan vokal group), baca puisi, dan kelompok drama. Selanjutnya diakan simulasi dalam kelompok yang lebih besar. Sedangkan pada tahap pelaksanaan/pementasan, tim mementaskan/mendemonstrasikan acara/kegiatan yang telah dirancang di hadapan audiens. Ada empat kreativitas seni yang dipentaskan: menari (menari tradisional dan campuran), menyanyi (solo/duet/trio/vocal group), baca puisi, dan drama.


Ada cukup banyak masyarakat yang menyaksikan pementasan ini. Mulai dari anak kecil, kaum muda, dan juga orang tua. Ajang pementasan seni ini menjadi wadah dan tempat bagi kaum muda untuk menampilkan kreativitas seni mereka dengan percaya diri dihadapan ratusan penonton yang hadir. Kegiatan ini berjalan dengan baik atas kerja sama berbagai pihak: pastor paroki, kepala desa, para guru di Stasi Lewat, ketua dewan stasi, ketua KBG, dan seluruh umat di Stasi Lewat.

Penulis: Vitalis Tarsan