Peluang dan Tantangan Pendidikan pada Era Revolusi Industri 4.0

Share

Kuantitas bukan lagi menjadi indikator utama bagi suatu perguruan tinggi dalam mencapai kesuksesan, melainkan kualitas lulusannya. Kesuksesan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 erat kaitannya dengan inovasi yang diciptakan oleh sumber daya yang berkualitas, sehingga PerguruanTinggi wajib dapat menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja di era globalisasi.

Menjawabi tantangan kualitas pendidikan di era globalisasi, Sabtu (8/12/2018), bertempat di Aula Missio Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) melaksanakan seminar nasional yang bertajuk “Peluang dan Tantangan Pendidikan pada Era Revolusi Industri 4.0 (ERI 4.0)”.


Baca juga: Magang II: Mempersiapkan Guru Profesional dan kompetitif

Ketua Sekolah membuka secara resmi Seminar Nasional Prodi PGSD pada Pukul 08:30 WITA. Para dosen PGSD hadir dengan penuh antusias dalam seminar itu. Sekitar 472 mahasiswa juga hadir dan berpartisipasi aktif selama seminar berlangsung.
Ketua Sekolah, dalam sambutannya mengatakan diperikrakan 60% pekerja di dunia ini akan digantikan dengan digital. Sebagai calon pekerja perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang revolusi industri 4.0. Sebagai calon guru yang siap terjun ke lapangan setidaknya memiliki kapabilitas dibidang informasi dan teknologi serta keterampilan kompetensi akses dengan teknologi.

Dr. Ni Luh Putu Sri Adnyani, pemateri pertama, dalam pemamparan materinya menarasikan tentang peluang dan tantangan pendidikan di era revolusi industri 4.0. Era revolusi industri 4.0 (ERI 4.0) merupakan era teknologi informasi yang sering disebut dengan era ekonomi digital.

PENGEMBANGAN KOMPETENSI CALON GURU SEKOLAH DASAR MELALUI PROGRAM MAGANG 1

Di bidang pendidikan, ERI 4.0 memberikan peluang dan tantangan. Peluangnya; berbagai informasi bisa diperoleh dalam gengaman tangan. Dengan menekan beberapa tombol berbagai informasi dapat disajikan. di samping itu era industri 4.0 memberikan kemudahan dalam mencari pekerajaan bagi yang sedang mencari pekerjaan (job Seekers). Hal ini disebabkan karena begitu banyak industri, perusahan maupun pemerintah menyampaikan informasi lowongan pekerjaan secara daring.


PEMBELAJARAN BERORIENTASI HOTS DI SEKOLAH DASAR

Selain peluang, Dr. Ni Luh Putu Sri Adnyani juga menyampaikan bahwa era 4.0 juga menghadapkan kita pada berbagai tantangan. Tantangan-tantangan itu berupa; pertama, pola pikir. Adanya ketakutan akan perubahan, adanya ketakutan terhadap ekonomi digital, yakni potensi akan hilangnya pekerjaan-pekerjaan terntentu. Kedua, tantangan ketidakdewasaan dalam menggunakan teknologi. Terjadinya cyber crime, cyber bullying, berita bohong (hoax), dan etika sosial media, tegasnya lebih lanjut.
Tantangan di dunia pendidikan, pada zaman dulu, guru merupkan yang maha tahu, sumber informasi pengetahuan. Namun pada era 4.0, guru diharapkan bias menjadi penyeimbang informasi. Guru di zaman milenial tidak lagi bisa melarang murid untuk menggunakan gawai elektronik seperti smartphone, namun guru perlu mengontrol bagaimana murid menggunakan teknologi agar tidak menyimpang dari moral dan jati diri manusia.


Workshop Penyusunan Borang Akreditasi SAPTO dan SPMI

Sementara itu, Dr. Inosensius Sutam, pemateri ke dua, dalam pemaparan materinya lebih menekankan pada jati diri manusia pada era revolusi industry 4.0. Jati diri merupakan identitas, keunikan, karakter seseorang. Karakater merupakan gambaran diri terhadap orang lain. Identitas membedakan diri dengan orang lain. Diri sebagai cermin. Cermin diri yang terbaik dapat diperoleh melalui pendidikan.
Informasi dan perkembangan teknologi memberikan peluang dan tantangan dalam pembentukan jati diri manusia. Pada era 4.0 begitu banyak peluang yang memudahkan manusia seperti reproduksi, bayi tabung, cangkok, bank reproduksi, cloaning yang dikenal dengan mesinisasi. Pada situasi situasi seperti itu apakah jadi diri manusia tetap ada pada kodratnya atau tidak? Pertanyaan ini juga memberikan tantangan kepada manusia untuk menyikapi keberadaan jadi diri manusia pada era 4.0.

Generasi milenial, di era revolusi 4.0 membutuhkan komitmen pemangku kebijakan untuk menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung untuk bersaing pada era 4.0. Era 4.0 sangat menuntut sumber daya manusia yang memiliki 4C, creative thinking, collaboration, communication, dan creativity. Keempaat potensi ini semestinya didukung oleh karakter dan jati diri yang mampu mengimbangi diri dalam pergumulan diri dengan teknologi di era 4.0.

Download Sertifikat Akreditasi Prodi PGSD
Seminar itu berlangsung dari pukul 08:30-12:30. Setelah pemaparan materi dan diskusi, dilanjutkan dengan penyerahan cindera mata oleh Mikael Nardi, M.Pd., selaku ketua Program studi PGSD kepada kedua pemateri. Setelah penyerahan cindera mata, seminar ditutup dengan sesi foto bersama panitia seminnar (ketua panitia Marselinus Robe, M.Pd.)