Upaya Meningkatkan Kesadaran Anak Muda dan Pelesterian Adat Kokor Tago

Share

Rabu, (5/10/2018) Seorang Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng, Ketua Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Hubertus Aliansi Jehata, S.Fil.,M.Pd., mengatakan kesuksesan terwujud jika ada kesadaran masyarakat umumnya, anak muda khususnya akan kerja sama yang baik. Kerja sama dapat dipraktekan melalui budaya kokor tago (istilah manggarai: gotong royong).

Beliau mengatakan ini saat tiba di lokasi PKM, halaman gendang Mena, (5/10/2018). Dalam sambutanya di hadapan tokoh adat gendang Mena menyatakan bahwa “sungguh perihatin melihat realitas anak-anak mudah zaman milenial ini yang mana semangat gotong royong atau kerja sama (kokor tago) sangat berkurang dan bahkan hampir tidak dipraktekan lagi. Fenomena ini tentunya memperihatinkan bagi orang Manggarai pada umumnya. Sebagai anak muda dan anak Manggarai, sangat kecewa ketika budaya kokor tago tidak diperhatikan dan dipraktekan lagi”, tukasnya lebih lanjut.

Menyikapi realitas ini maka yang sering disapa pak Ansi menghadirkan kegiatan PKM di gendang Mena yang bertajuk pada “Upaya Meningkatkan Kesadaran Anak Muda dan Pelesterian Adat Kokor Tago Sebagai Warisan Nenek Moyang Manggarai Lewat Kerja Sama Membangun Mbaru Gendang Mena tahun 2018”. Kegiatan PKM berlangsung selama Oktober-November 2018 yang dilaksanakan pada setiap hari Senin dan Rabu setiap minggu.

Kegiatan PKM ini diketuai oleh Hubertus Aliansi Jehata, S.Fil.,M.Pd., dan beranggotakan mahasiswa kelas IIIG Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Santu Paulus Ruteng.

baca juga: Peluang dan Tantangan Pendidikan pada Era Revolusi Industri 4.0

Jenis Kegiatan yang dilakukan adalah kerja sama membangun mbaru gendang (rumah adat) Mena tahun 2018. Kegiatannya dilakukan secara konkrit dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik maupun kegiatan konseptual.
Kegiatan-kegiatan fisik yang dilakukan adalah memindahkan bahan material pembangungan rumah adat seperti memindahkan batu bata, mengangkat kayu, merapihkan ijuk, memindahkan kerikil, meratakan tanah dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sedangkan kegiatan konseptul berupa menayanyakan kepada tua-tua adat, tokoh masyarakat, dan tukang tentang istila-istila dalam rumah adat Manggarai serta struktur rumah adat Manggarai.

Baca juga: Gerakan Selebrasi Kerukunan Umat Beragama Generasi Milenial Menyongsong Pemilu Serentak 2019

Tujuan kegiatan PKM tersebut adalah menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi dibidang Pengabdian kepada masyarakat. Memaknai istila kokor tago sebagai warisan nenek moyang Manggarai dalam konteks yang nyata. Mempraktekan kokor tago lewat kegiatan nyata yaitu membantu proses pengerjaan rumah adat di Mena. Mempertahankan dan melestarikan makna dan filosofi kokor tago sebagai salah satu warisan nenek Moyang Manggarai. Memberi stimulus kepada generasi milenial akan kesadaran pentingnya kokor tago untuk mencapai kesuksesan bersama maupun peribadi.

Baca juga: PENINJAUAN KURIKULUM KKNI PROGRAM STUDI PGSD STKIP SANTU PAULUS RUTENG

Mahasiswa yang adalah generasi penerus diharapkan menjadi penunjuk jalan bagi anak mudah lainya untuk menumbuhkembangkan budaya kokor tago. Dengan adanya pelestarian budaya kokor tago yakinlah bahwa kesuksesan dengan mudah tercapai.

Besar harapan ketua PKM, Hubertus A. Jehata bahwa PKM kokor tago memberi dampak positif terhadap anak mudah Manggarai umumnya dan masyarakat gendang Mena khususnya. Sehingga budaya kokor tago tetap ada, akan ada, dan terus ada sepanjang masa, tegas pak Ansi sembari mengakhiri sambutannya.

Oleh: Selvianus Hadun.