PEMBELAJARAN BERORIENTASI HOTS DI SEKOLAH DASAR

Share

Jumat (21/9/2018), bertempat di aula Missio Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng, pukul 14:00 WITA, ketua Program Studi PGSD, Mikael Nardi, M.Pd. membuka kegiatan seminar bertajuk Pembelajaran Berorientasi Higher Order Thinking Skill (HOTS).
Menyambut era revolusi abad ke 21 Program Studi Pendidikan Gurur Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Santu Paulus Ruteng menyiapkan calon guru sekolah dasar (SD) untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan kreatif melalui seminar ilmiah. Seminar diadakan dengan tujuan membekali calon guru yang akan datang (future teahcers) dengan kemampuan berbasis Higher Order Thinking Skill.

Pembicara pertama Drs. Eliterius Sennen, M.Pd. menekankan pada pentingnya HOTS dalam pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD) secara umum. Menurut beliau, HOTS dapat membekali siswa/i SD dengan berpikir kritis, logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta bekerja sama. Beliau juga mengedepankan bagaimana siswa/i dipersiapkan dengan kemampuan memecahkan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Calon guru SD yang akan datang dituntut untuk mampu mengubah dan mengembangkan konsep matematika untuk memecahkan masalah-masalah real di dunia nyata. HOTS dalam pembelajaran matematika di SD menuntut guru untuk meyakinkan siswa/i bahwa materi matemtika bermanfaat dalam praktek kehidupan sehari hari.

Pembicara kedua, Arnoldus Helmon, M.Pd. dalam tema pembicaraannya Pengembangan Instrument Tes HOTS Dalam Pembelajaran Matematika di SD lebih menekankan hakekat dan karakteristik soal HOTS matematika. Menurut beliau hakekat pengembangan tes soal HOTS adalah kemampuan melakukan transfer belajar, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. Pada level kognitif siswa/i dituntut untuk mampu menganlisis, mengevaluasi, dan mencipta. Soal HOTS merupakan soal pemecahan masalah non rutin untuk megukur kemampuan siswa melakukan transfer belajar.
Sedangkan karakteristik soal HOTS adalah harus mengukur kemampuan tingkat tinggi, berbasis masalah kontekstual, dan menggunakan soal beragam. Melalui HOTS siswa/i dapat memecahkan persoalan (problem solving) yang ada dalam kehidupan sehari hari.

Pembicara ketiga, Dewi Rofita, M.Pd. dalam tema Pembelajaran IPA SD Berorientasi HOTS Dengan Strategi Metakognitif menegaskan bagaimana perkembangan metakognitif dalam pembelajaran IPA SD. Beliau menekankan beberapa hal dalam strategi perkembangan metakognitif yakni siswa dituntut untuk mampu mengidentifikasi (identification) , berbicara tentang berpikir (talking about thinking), membuat jurnal berpikir (making thinking journal), melaporkan perencanaan proses berpikir (debriefing thinking process), dan evaluasi diri (self-evaluation).

Pembicara keempat, Yosef Firman Narut, S.Si.,M.Pd. dengan tema Pengembangan Soal Berkarateristik HOTS Pada Pembelajaran IPA SD. Beliau menegaskan bagaimana pentingnya mempersiapkan peserta didik dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran IPA SD. Beliau memaparkan ini menggarisbawahi tujuan pendidikan nasional Indonesia yang diarahkan pada upaya mengimplementasikan visi pedagogik pembelajaran abad ke 21. Peserta didik diharapkan untuk memiliki empat kategori yakni; pertama, cara berpikir (ways of thinking). Ways of thinking membantu peserta didik untuk berkreativitas dan inovasi, berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan metakognisi. Kedua, cara bekerja (ways of working). Tercakup dalam cara ini adalah keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi, dan bekerjasama dalam tim. Ketiga, alat bekerja (tools for working) adalah keterampilan yang didasarkan pada literasi informasi. Keempat, kemampuan untuk hidup di dunia (skill for living in the world) merupakan kesadaran sebagai warga negara global maupun local (citizenship- local and global).
Menurut Marta Yustina Pelian (mahasiswi PGSD) yang dijumpai ditengah seminar mengatakan HOTS perlu dilatih bukan hanya untuk siswa melainkan juga bagi guru dan calon guru. Pada dasarnya sebelum pembelajaran itu sampai kepada siswa, terlebih dahulu guru yang memulainya serta dapat mengimplementasikan pengetahuan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Memasuki era digital 4.0 (For point zero), kita berhadapan dengan realitas perkembangan zaman yang semakin pesat, untuk itu langkah yang harus kita ambil adalah dengan mengedepankan pembelajaran berbasis HOTS pada anak SD. HOTS merupakan suatu proses cara berpikir tingkat tinggi dengan menampilkan proses berpikir yang rasional, kritis, analisis, alternative yang kemudian cara berpikir itu bermanfaat untuk mengahadapi situasi dan fenomena yang ada. Untuk itu, dalam pembelajaran ke-SDan siswa dituntut untuk berpikir kritis dan rasional dalam proses pembelajaran dengan melatih dan membiasakan diri dalam pribadi siswa (Godefridus Novendi Abdi).

Pembelajaran berorientasi HOTS di SD mempersiapkan peserta didik berpikir kritis, sistematis, analitis, dan kreatif. Dengan demikian, peserta didik yang telah disiapkan dengan kemampuan berpikir yang berorientasi HOTS siap menyambut dan bereksplorasi dengan era digital 4.0 (the era of four point zero) di abad ke 21 yang dikenal dengan dunia IPTEK. Peserta didik juga diharapkan mampu memecahkan persoalan harian. HOTS mengiluminasi pola pikir peserta didik agar tidak lagi menilai pembelajaran matematika sebagai suatu masalah melainkan sebagai pemecah persoalan (problem solving) dalam persoalan sehari hari.

Peliput dan penulis: Selvianus Hadun