Share

“Cangkang kemiri bisa menjadi bahan bakar alternatif” ungkapan seorang dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng, yang adalah ketua Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Toe (23/7/2018)

Beliau mengatakan itu setelah melihat realitas yang sedang terjadi di desa Toe kecamatan Reok Barat kabupaten Manggarai yang sedang mengalami kesulitan bahan bakar, kayu api. Masyarakat selalu mengeluh akan kurangnya kayu apai sebagai bahan bakar.

Sementarai itu, fakta yang ada, Toe dikelilingi oleh begitu banyak pohon kemiri yang menghasilkan buah berkelimpahan. Cangkang kemiripun dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan.

Menurut Kanisius, realitas ini terjadi karena kurangnya pengetahuan untuk mengolah cangkang kemiri sebgai bahan bakar. “Selama ini masyarakat Toe menggunakan cangkang kemiri hanya sebagai bahan bakar konvensional dimana kulit kemiri yang kering diambil dan dibakar begitu saja sebagai bahan bakar. Metode ini tidak menghasilkan panas yang effektif dan maksimal dalam proses memasak.” ungkap Kanisius.


Baca juga:Remigius Baci: Meningkatkan Kesadaran dan Kecintaan Masyarakat Kampung Copu Desa Ruis terhadap Alam

Menyikapi realitas tersebut, tim PkM dari STKIP Santu Paulus Ruteng hadir untuk memberikan pelatihan pembuatan briket dari cangkang kemiri dalam kegitan PkM yang bertajuk pada “Pelatihan Pembuatan Briket dari Cangkang Kemiri Sebagai Bahan Bakar Alternatif di Desa To’e Kecamatan Reok Barat Kabupaten Manggarai.”

Kegiatan ini diketuai oleh Kanisius Supardi, M.Pd. (NIDN. 08-2604-8001) bersama anggotanya mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng yakni Angelina T. Parungato dan Herliyanto Payong, (PGSD), Marselina Seni (program studi Matematika), dan Fransiska Jenida (PG-PAUD) .
Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi dan melatih masyarakat desa Toe kecamatan Reok Barat kabupaten Manggarai tentang bagaimana cara membuat briket dengan bahan dasar kulit kemiri sebagai bahan bakar alternatif.

Baca juga: Upaya Meningkatkan Kesadaran Anak Muda Tentang Dampak Penggunaan Smart Phone Terhadap Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Desa Golo Lanak

Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahap; tahap sosialisasi, tahap kegiatan, dan tahap evaluasi. Kegiatannya berlangsung selama satu bulan yakni 19 juli sampa 24 Agustus 2018. Lokasi kegiatan di desa Toe kecamatan Reok Barat kabupaten Manggarai. Sasaran kegiatan adalah masyarakat desa Toe.


Adapun hasil dari kegiatan tersbut adalah kulit kemiri menjadi bahan yang bernilai ekonomis tinggi. Selain itu, sebagai bahan bakar alternatif yang tidak membutuhkan uang untuk membelinya. Kulit kemiri/ cangkang tidak lagi dibuang kemana-mana sebagai bahan yang tidak bernilai. Masyarakat selalu menyimpan dan menggunakanya secara tepat dan effektif.

Besar harapan dari Kanisius bahwa masyarakat Toe dapat menjadi model bagi yang lain. Kulit kemiri atau cangkang tidak lagi dilihat sebagai bahan yang tidak berguna melainkan sebagai bahan bakar alternative yang effektif serta apa yang mereka peroleh dari kegiatan PkM dapat berkelanjutan. (Selvianus***)