Share

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat merupakan salah satu komponen dari Tri Dharma Perguruan Tinggi bertujuan untuk menghadirkan perguruan tinggi melalui kegiatan-kegiatan yang rill dan praktis untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi oleh prinsip pembangunan yang tidak saja tanggung jawab pemerintah namun juga tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat termasuk perguruan tinggi. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu secara sistematis dan terstruktur merencanakan keikutsertaannya dalam pembangunan. Perguruan tinggi merupakan bagian integral dari usaha-usaha pembangunan baik nasional maupun regional dan lokal.
Salah satu desa yang menjadi sasaran dari kegiatan PKM ini adalah Desa Compang Ndehes Kecamatan Wae Ri’i Kabupaten Manggarai. Masyarakat di Desa Compang Ndehes umumnya berprofesi sebagai petani. Sebagian wilayah di desa ini adalah lahan pertanian dan sebagiannya adalah perkebunan. Umumnya masyarakat yang memiliki lahan pertanian mengolah lahan mereka dengan membudidayakan tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan. Dalam hal perwatan tanaman dan menjaga kesuburan tanah, masyarakat umumnya menggunakan pupuk kimia atau pupuk anorganik. Hal ini, bila dilakukan berkepanjangan maka akan berdampak buruk bagi lingkungan dan menurunkan kualitas tanah akibat bahan kimia berbahaya yang terakumulasi didalam tanah.

Baca juga: PkM: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengolahan Pisang Kepok Menjadi Keripik Pelangi di Desa Golo Muntas

Bahan kimia ini tidak hanya mencemari tanah tetapi juga dapat menjadi racun bagi organisme baik dalam tanah yang berfungsi menjaga kesuburan tanah secara alamiah. Selain itu, pupuk yang digunakan juga dapat diserap oleh tanaman dan menjadi residu yang berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi secara terus menerus. Masyarakat di desa ini juga belum mengalihkan perhatian mereka pada pupuk organik yang disebabkan kurangnya pengetahuan mereka tentang manfaat pupuk organik. Mereka juga belum menyadari akibat jangka panjang yang disebabkan pemanfaatan pupuk kimia. Selain itu, biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk kimia juga cukup banyak sehingga keuntungan yang diperoleh tidak begitu banyak.

PEMBELAJARAN BERORIENTASI HOTS DI SEKOLAH DASAR

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penting dilakukan terobosan baru yang ramah lingkungan, mudah atau sederhana dikerjakan oleh siapa pun dan tidak mengeluarkan biaya yang berlebih. Oleh karena itu, masalah di Desa Compang Ndehes dapat pula diatasi dengan kegiatan “Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos”. Pupuk kompos merupakan pupuk organik yang berbahan dasar sisa bahan organik dari tanaman maupun dari hewan.

PKM: Pemberdayaan Kemampuan Berorganisasi Pemuda di Desa Tal dan Desa Legu Melalui Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD)

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Ibu Marlinda Mulu, S.Si, M.Pd (NIDN: 0828059001) bersama 5 orang mahasiswa yang berasal dari prodi Matematika dan PGSD STKIP St. Paulus yakni Yulianus R. Hibur, Patrisna Wati, Hildegardis Bangur, I’is Asriyani, Yohana M.I. Sasmiarci, yang dilksanakan pada tanggal 14 Agustus – 18 Agustus 2018. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mendorong masyarakat setempat dalam mengembangkan perekonomian dan pendapatan perkapita dalam sektor pertanian. Selain yang sudah disebutkan di atas, kegiatan PKM ini juga dilakukan untuk menunjang kesuburan tanah dengan pembuatan pupuk kompos bagi masyarakat. Adapun beberapa target yang dilaksanakan dalam kegiatan pengabdian ini antara lain: pertama, penduduk desa Compang Ndehes, Kecamatan Wae Ri’i dapat mengetahui fungsi dan kegunaan dari pupuk kompos bagi kesuburan tanah. Kedua, dengan adanya kegiatan pembuatan pupuk bokasi, masyarakat desa dapat meningkatkan pendapatan dan penghasilan dari hasil panenan.

Pembuatan Pupuk kompos diolah dari kotoran hewan dan dicampur dengan abu dari sampah yang telah dibakar lalu didiamkan di dalam karung selama tiga sampai lima hari kemudian dikeluarkan dari karung untuk dibolak balik atau dicampur kembali. Tujuan dari pencampuran ini untuk menjaga suhu didalam karung agar tidak terlalu panas sehingga dapat menghasilkan pupuk yang berkualitas baik. Pembuatan pupuk kompos ini hanya berlangsung 28 hari, sedangkan tim PKM hanya mendampingi proses kegiatan selama 5 hari. Untuk tahapan selanjutnya hingga pupuk kompos siap digunakan, dilanjutkan oleh masyarakt sendiri.

Penulis: Marlinda Mulu