Prof. Dr. Emil Salim: Pendidikan Mesti Membentuk Jatidiri Ketimuran

Share

STKIP Santu Paulus Ruteng menyelenggarakan International Conference on Education, Cultural, and Humanities (ICECH) pada tanggal 18-20 November 2017. Konferensi yang menghadirkan belasan profesor dari 8 negara ini mengusung tema “Social Sciences and Humanities In Lights of The Challenges of A Globalized World”.

Tampil sebagai pemateri pertama adalah Prof. Dr. Emil Salim dan Prof. Dr. Taufik Abdullah. Prof. Dr. Emil Salim menyatakan bahwa Indonesia Timur merupakan suatu ekologi tersendiri yang dibatasi dengan pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Sebagaimana ekologi Amerika dan Eropa, Indonesia Timur merupakan suatu ekologi yang memiliki keunikan. Tokoh lingkungan hidup yang pernah menerima The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF) ini memberi contoh keunikan Indonesia Timur seperti tarian, musik, dan alam yang sangat unik, berbeda dari ekologi Indonesia bagian barat. Keunikan ini menurut beliau memiliki nilai filosofis yang mestinya mendorong lahirnya ekonomi timur. Harus ada produk ketimuran yang dihasilkan dari keunikan timur.

Menjawabi pertanyaan peserta konferensi, Prof. Dr. Emil Salim menjelaskan pendidikan mesti mengembangkan jatidiri ketimuran kepada generasi muda. “Anak-anak tidak hanya diajarkan tentang kultur lain, melainkan lebih kepada mengajarkan tentang kulturnya sendiri. Dengan menyadari kulturnya sendiri, generasi muda terdorong untuk menjadikan nilai-nilai kultur tersebut sebagai kekuatan yang kreatif”.

Prof. Dr. Emil Salim lahir di Lahat, Sumatera Selatan pada tanggal 1930. Beliau adalah mantan menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan. Beliau dikenal sebagai pakar ekonomi, cendekiawan, pengajar, dan politisi Indonesia. Atas prestasi dan dedikasinya dalam bidang lingkungan hidup, beliau pernah menerima anugerah Blue Planet Prize (2006) dari The Asahi Glass Foundation. Bersama beberapa koleganya, beliau juga mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati (yayasan KEHATI) yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan.

Peliput : Mikael Nardi

Editor : Lian Jemali

Foto : Patris Tegok