Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di STKIP Santu Paulus Ruteng oleh Anggota DPR-MPR RI

Share

Anggota DPR-MPR Republik Indonesia, Johnny G. Plate, SE menjadi pembicara pembuka dalam kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan di STKIP Santu Paulus Ruteng (Senin, 2 Oktober 2017).

Kegiatan dimulai dengan penerimaan rombongan secara adat Manggarai (kepok) di depan Yayasan Santu Paulus Ruteng oleh pimpinan yayasan, para Puket dan dosen STKIP Santu Paulus Ruteng.

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk presentasi materi dan diskusi yang juga menghadirkan tiga pembicara yaitu Dr. Abdul Majir, M.KPd, Rm.Dr. Inosensius Sutam, Pr dan Bapak Gaudensius Wodar. Tampil sebagai moderator, Maksimilianus Jemali, M.Th.

Para peserta yang hadir adalah pimpinan Yayasan Santu Paulus, Para Puket dan dosen STKIP Santu Paulus Ruteng, para jurnalis dari berbagai media, pimpinan dan anggota partai Nasdem, aktivis, dan mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng,

Dalam sambutan pembuka, Rm. Geradus Janur, Pr menyampaikan terimakasihnya kepada Johhny G. Plate beserta rombongan yang sudah berkenan datang ke STKIP Santu Paulus Ruteng dan memberikan pencerahan bermakna tentang pilar-pilar kebangsaan. “Memang, mempelajari pilar-pilar tersebut sangat mudah, tetapi pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit”, demikian kata beliau. Beliau juga mengajak sivitas akademika terutama para dosen dan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan ini supaya bisa menangkap nilai-nilai yang perlu dihayati selanjutnya.

Johnny G. Plate selaku pembicara pembuka memaparkan bahwa kedatangannya ke STKIP lebih sebagai anggota MPR yang melaksanakan tugas sosialisasi empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika. Menurutnya persoalan Indonesia saat ini adalah adanya disparitas atau kesenjangan terlalu besar antara yang kaya dan miskin. Kita perlu membangun Indonesia bersama-sama dan berani menantang orang-orang yang berseberangan dengan pilar-pilar kebangsaan.

Dalam hubungannya dengan konteks NTT, Johhny G. Plate menyampaikan bahwa banyak tantangan yang muncul dari wilayah NTT. Salah satunya adalah persoalan Sumber Daya Manusia (SDM). Supaya NTT bisa mengalami kemajuan maka sangat diperlukan peningkatan SDM terutama lewat bidang pendidikan. NTT mesti menjadi rumah yang nyaman untuk semua agama, etnis, dan golongan. NTT tidak boleh menjadi rumah para pengacau, teroris, pengguna narkoba, dan human trafficking.

Anggota Komisi XI DPR ini juga mengharapkan generasi milenial STKIP santu Paulus Ruteng bisa menjadi pemimpin harapan masa depan bangsa Indonesia yang memiliki loyalitas tinggi terhadap pilar-pilar kebangsaan tersebut.

Pembicara berikutnya, Dr. Abdul Majir, M.KPd mempresentasikan bahwa pilar-pilar tersebut adalah harga mati. Tidak boleh ada satu pun rakyat Indonesia yang coba-coba menggantinya. Beliau mengapresiasi STKIP Santu Paulus Ruteng yang memperkenankan anak-anak muda dari berbagai agama untuk mengenyam pendidikan. Hal ini merupakan perwujudan yang sangat baik.

Rm. Dr. Inosensius Sutam, Pr melihat pilar-pilar kebangsaan dalam konteks sejarah dan budaya Manggarai. Menurutnya gagasan tentang pilar kebangsaan sudah lama dirintis oleh tokoh-tokoh nasional. Pilar sama dengan tiang. Tiang itu tidak bergerak. Meskipun pasif tiang tetap aktif. Begitu juga dalam konteks kebudayaan Manggarai. “Ca kali lodok; dod moso, ca kali gendang, dod usung, ca leleng do, do leleng ca”, demikianungkap dosen budaya daerah STKIP Santu Paulus Ruteng ini. Pada kesempatan ini, Rm Ino juga sempat membacakan puisi dalam bahasa Manggarai.

Pembicara terakhir, Gaudensius Wodar mengungkapkan bahwa sebagai ahli waris bangsa, generasi muda memiliki tanggung jawab yang besar. Bangsa ini akan tetap memiliki nama besar apabila memiliki mindset dan karakter yang sama. Ini adalah tugas dan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Para mahasiswa adalah generasi yang dipersiapkan dan mempersiapkan diri dengan cara pandang yang baik tentang Indonesia.

Penulis : Lian Jemali