PKM Hitungan Matematika dalam Pendidikan Nilai-nilai Katolik dan Budaya Manggarai untuk Menangkal Gerogotan Bahaya Rokok

Share

Foto. Diskusi bersama warga KUB Lando

Pada 18 Maret 2017, diadakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilakukan oleh  berupa seminar mini yang melibatkan seluruh warga KUB (Komunitas Umat Basis) Lando, Paroki Santu Fransiskus Lando/Poka, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai. PKM ini dilaksanakan oleh UKM (Unit Kreativitas Mahasiswa) Maiga didampingi Sebastianus Fedi, M.Pd sebagai moderator.
UKM Maiga adalah UKM khas Program Studi Matematika yang mempunyai tujuan menciptakan cendekiawan STKIP St. Paulus yang kreatif dan inovatif dalam bidang matematis. Pembentukan UKM ini didasari atas kebutuhan mahasiswa matematika untuk mematikan presepsi bahwa matematika itu rumit dan kaku, menghindari stigma bahwa matematika adalah ilmu para guru saja, matematika jauh dan tak mampu menyelesaikan masalah dalam masyarakat.

Selama dua minggu awal Maret 2017, Moderator UKM Maiga memantau dan mensurvei bagaimana penerapan matematika dalam menangani masalah sederhana di tengah masyarakat. Didapati bahwa sebagian besar warga masyarakat cenderung menjalankan suatu keputusan tanpa didasari data, sama sekali tidak ada data atau tidak mendata jenis pengeluaran, tidak ada pertimbangan dan tanpa didasari logika ilmiah, menimbulkan kerugian yang tidak disadari. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa ada masyarakat yang mengambil keputusan dalam keadaan ‘salah perhitungan’.

Salah satu masalah yang disoroti UKM Maiga adalah tingginya konsumsi rokok. UKM Maiga menilai bahwa konsumsi rokok adalah masalah besar di bidang agama, ekonomi, politik, dan kesehatan. Konsumsi rokok merupakan penyakit sosial yang kebanyakan menindas rakyat jelata, dengan alasan: (1) Khusus umat Katolik, nilai uang belanja rokok lebih tinggi daripada setoran derma ke Gereja (jika dihitung harian, mingguan, atau tahunan), (2) Kebanyakan perokok adalah rakyat jelata berpendidikan dan berpenghasilan rendah, (3) Merokok bisa dianggap sebagai metode penindasan terhadap kaum lemah, (4) Harga 1 bungkus rokok melebihi harga 1 kg beras, melebihi harga 5 buah batu bata. Harga satu selot rokok melebihi harga 1 lembar baju kemeja kelas menengah, (5) Merokok menyebabkan gangguan kesehatan, (6) Merokok mencemari lingkungan, dan (7) Dari segi pendidikan dalam keluarga, merokok merupakan perilaku negative.

TUJUAN KEGIATAN PKM
Tujuan pelaksanaan kegiatan ini, adalah: (a) Mewujudkan tridahrma perguruan tinggi (STKIP Santu Paulus Ruteng) melalui aksi nyata civitas akademika; (b) Memantapkan soliditas iman katolik dalam membangun gereja dengan pikiran sehat; (c) Menyadarkan masyarakat tentang bahaya dan kerugian ekonomis karena merokok; (d) Menyadarkan masyarakat agar bebas dari penindasan melalui rokok; (e) Mendorong masyarakat untuk berperilaku hidup sehat; (f) Menyadarkan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan dari bahaya merokok dan mewariskan perilaku positif.

MATERI PKM
PKM ini dijalankan dalam format seminar mini, seperti katakese dalam tradisi Gereja Katolik. Materi dibawakan oleh Sebastianus Fedi, S.Si, M.Pd dan Suster Maria H. Ose Blikololong, SpSS, seperti tabel berikut:

Semoga kegiatan anti rokok ini dapat dilaksanakan secara kontinu dan rutin…

(Sebastianus Fedi, Valeria S. Kurnila, Sr. Maria Helena Ose Blikololong, SpSS)

Leave A Reply