Kegiatan Pelatihan Pemanfaatan Bambu Sebagai Media Tanaman Sayur-Sayuran Pada Lahan Sempit Sebagai Alternatif Hemat Ekonomi Keluarga

Share

Rumah tangga siapapun pasti menjadikan sayur-sayuran sebagai bagian dari sembilan kebutuhan pokok keluarga yang harus tersedia setiap hari. Sehingga tidaklah heran, jika ibu-ibu rumah tangga selalu mengalokasikan sejumlah uang dari pendapatan harian keluarga mereka untuk kebutuhan membeli saryur-sayuran setiap hari. Hal inilah yang menjadi kebiasaan hidup bagi masyarakat di Desa Belang Turi, sebab lahan kering mereka tidak bisa ditanami sayur setiap saat dan hanya bisa ditanami sayur ketika musim hujan saja. Desa Belang Turi ini merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Ruteng yang masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai petani. Disisi lain, ketersediaan air bagi setiap rumah tangga cukup bahkan lebih, dan ketersediaan lahan disekitar rumah juga cukup untuk ditanami sayur. Namun demikian, masyarakat tidak pernah memanfaatkan lahan-lahan di sekitar rumah mereka untuk ditanami sayur.

Kesulitan menanam sayur di lahan kering pada musim kemarau menjadi penyebab masyarakat di Desa Belang Turi mengalami krisis sayur ketika musim kemarau tiba. Itulah sebabnya, sehingga hampir seluruh masyarakat di desa ini menggantungkan kebutuhan sayur bagi keluarga mereka dengan cara membeli. Secara ekonomis kondisi seperti ini tentunya tidak menguntungkan bagi rumah tangga siapapun, karena disisi lain kebutuhan uang untuk keperluan sekolah bagi anak-anak dan kebutuhan-kebutuhan keluarga lainnya harus juga terpenuhi.

Hal tersebutlah yang mendorong seorang dosen Program Studi Pendidikan Matematika STKIP Santu Paulus (Ferdinandus Ardian Ali, NIDN: 08 0706 8703) bersama dengan empat orang mahasiswanya (Isfridaina R. Awil, Kripsantu P. Pona, Natalia M. Marsephy, dan Yoyanti S. Nganur) melakukan kegiatan memberikan pelatihan kepada masyarakat di Desa Belang Turi untuk memanfaatkan bambu sebagai media tanam sayur-sayuran di lahan-lahan mereka yang terkategori sempit. Bapak Ferdinandus bersama dengan keempat orang mahasiswanya tersebut tergabung dalam satu Tim PKM dari kampus STKIP Santu Paulus yang merupakan salah satu kampus yang ada di Kota Ruteng. Kegiatan yang dilakukan oleh Bapak Ferdianandus Ardian Ali bersama mahasiswanya tersebut merupakan wujud dari bentuk pengabdian mereka kepada masyarakat, sehingga dapat membantu masyarakat untuk menemukan solusi dari permasalahan yang selama ini mereka alami khususnya terkait masalah krisis sayur ketika musim kering.

Melalui kegiatan pelatihan ini, masyarakat diharapkan dapat memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai terkait dengan pemanfaatan bambu yang ada disekitar mereka untuk dijadikan sebagai media tanam sayur-sayuran, sehingga kedepannya masyarakat di desa tersebut tidak lagi mengalami krisis sayur-sayuran pada musim kering. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 30 juli – 3 agustus 2018 yang lalu yang diikuti oleh sebagian besar masyarakat di desa tersebut.

Sebelum datang ke desa Belang Turi, para tim PKM ini melakukan berbagai hal sebagai bentuk persiapan. Pertama: para tim PKM-M melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Belang Turi untuk menentukan waktu dan temapt pelaksanaan kegiatan pelatihan; kedua: para tim PKM-M melalui Kepala Desa Belang Turi mengundang warga Desa Belang Turi untuk hadir mengikuti pelatihan pada waktu dan tempat yang telah disepakati; ketiga: para tim PKM-M melalui Kepala Desa Belang Turi meminta warga Desa Belang Turi untuk membawa alat dan bahwa yang akan dibutuhkan pada saat kegiatan pelatihan berlangsung, yakni alat (parang, gergaji, palu-palu, paku, kawat kecil), dan bahan (bambu, tanah, air, bibit sayur-sayuran).

Pada saat pelaksanaan, para tim PKM memberikan pelatihan kepada masyarakat melalui berberapa kegiatan. Pertama: para tim PKM-M menjelaskan langkah-langkah dan cara mendesain bambu menjadi media tanam sayur-sayuran; kedua: para tim PKM-M mempraktekkan cara mendesain bambu agar menjadi media tanam sayur-sayuran di depan seluruh warga yang terlibat dalam kegiatan pelatihan tersebut, yakni sebagai berikut : (1) memotong bambu dengan ukuran tinggi kurang lebih 20 cm sebanyak 50 buah, (2) membuat lubang-lubang kecil pada bagian alas bambu-bambu tersebut sebagai pori-pori penyerapan air pada saat sayur-sayuran disiram, (3) meletakkan secara berderet bambu-bambu tersebut kedalam 5 – 10 baris, (4) bambu yang sudah diletakkan secara berderet tersebut selanjutnya dijepit dengan menggunakan 2 buah bambu yang sudah dibelah, dimana ukuran panjangnya disesuaikan dengan panjang deretan bambu media tanam yang sudah dibentuk sebelumnya, lalu mengikat keduanya ke bambu media tanam dengan menggunakan kawat kecil, (5) apabila bambu media tanam telah dibuat, selanjutnya dibuatkan tenda dari bahan bambu juga sebagai tempat penyimpanan bambu media tanam. Tenda ini perlu dibuat agar sayur-sayuran yang akan ditanam nantinya selalu dalam keadaan yang bersih karena daun dari sayur-sayuran tersebut tidak menyentuh tanah secara langsung, (6) para tim PKM-M membagi warga kedalam beberapa kelompok kerja, (7) para tim PKM-M meminta setiap kelompok untuk mendesain bambu menjadi media tanam sayur-sayuran dengan mengikuti langkah-langkah dan cara yang sudah dijelaskan oleh tim PKM-M sebelumnya, (8) apabila setiap kelompok telah menyelesaikan pembuatan media bambu tersebut, maka langkah selanjutnya adalah para tim PKM-M meminta kepada setiap kelompok untuk memasukkan tanah kedalam lubang-lubang bambu tersebut kemudian menanam bibit sayur-sayuran diatasnya lalu disirami dengan air sesukupnya.

Pada tahap akhir kegiatan, para tim PKM-M melakukan pemantauan secara berkesinambungan terhadap perkembangan pertumbuhan bibit sayur-sayuran yang telah ditanam sebelumnya pada kegiatan pelatihan berlangsung. Apabila sayur-sayuran tersebut telah mencapai umur siap panen yakni umur 30 sampai 40 hari, para tim PKM-M melakukan evaluasi terhadap proses pemeliharaan yang telah dilakukan, apakah proses pemeliharaan sudah tepat atau belum.

Sebagian besar masyarakat di desa Belang Turi terlibat secara langsung dalam kegiatan pelatihan ini. Masing-masing orang berkerja sesuai dengan pembagian tugas yang telah diberikan, dan tugas-tugas tersebut dilakukan dengan baik. Pada saat pelatihan, masyarakat mengajukkan banyak pertanyaan terkait hal-hal yang belum dimengerti tentang materi yang diberikan. Pada saat praktek di lapangan, semua masyarakat melakukan dan mengikuti cara-cara yang telah disampaikan pada saat pelatihan, sehingga praktek lapangan yang dibuat sesuai dengan konsep yang sebenarnya, yakni dapat menghasilkan dengan baik media bambu untuk wadah sayur-sayuran yang dibuat di lokasi dekat rumah mereka, sekaligus msayarakat mengerti cara pemeliharan sayur pada media bambu tersebut.

Berdasarkan hasil evaluasi antara Tim PKM dan masyarakat di desa Belang Turi, diperoleh data bahwa sayur yang ditaman pada wadah bambu tersebut tumbuh dengan baik, dan masyarakat sudah mulai merasakan manfaat dari kegiatan pelatihan ini. Masyarakat menyapaikan bahwa, hal positif lain yang mereka dapat dengan metode ini adalah lingkungan disekitar rumah mereka tampak indah, karena dikelilingi oleh sayur-sayuran yang mereka tanam pada wadah bambu tersebut.

 

Leave A Reply