Program KKN STKIP Santu Paulus: Perpustakaan Mini dan Kelas Dongeng untuk Anak-Anak Di Desa Todo

Share

Todo, Satar Mese Utara-. KKN (Kuliah Kerja Nyata) merupakan salah satu bentuk pelaksanaan pengabdian masyarakat dalam Tridharma Perguruan Tinggi (PT) yang sifatnya wajib. Pelaksanaan pengabdian masyarakat dilakukan sesuai dengan budaya akademik, keahlian, dan/atau otonomi keilmuan civitas Akademika serta kondisi sosial budaya masyarakat. STKIP Santu Paulus sebagai PT juga melaksanakan kegiatan ini, yang dimulai 23 Juli sampai 25 Agustus 2018.

Vitry, Alby, dan Vona, adalah mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng yang melakukan KKN di desa Todo kecamatan Satar Mese Utara, kabupaten Manggarai. Salah satu program yang dibuat di desa Todo adalah menyediakan buku-buku bacaan dan mengadakan kelas dongeng untuk anak-anak. Kegiatan ini diadakan sekali dalam seminggu pada pukul 14.00-17.00 WITA dan bertempat di halaman rumah Kepala Desa Todo.

Vitry, koordinator desa sekaligus penanggung jawab dari program ini, menerangkan bahwa inspirasi untuk menjalankan program ini sebetulnya sederhana. “ Anak-anak lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain, sehingga  waktu untuk membaca sangat sedikit bahkan tidak ada“ terangnya. Ia juga mengakui jika hal ini sebetulnya tidak dapat berlaku umum karena ada juga anak-anak yang masih suka membaca buku.

Selain itu, kelompok melihat bahwa saat ini budaya bercerita (Manggarai: tombo turuk) sudah hilang padahal di zaman dahulu hal ini dipakai oleh orang-orang dewasa untuk  mengedukasi anak-anak. “Daripada hanya bermain di sore hari, anak-anak lebih baik membaca buku atau mendengar cerita, kan ini bisa menyenangkan disamping mereka juga mendapat pelajaran berharga”, imbuhnya.

Alby, mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, menambahkan bahwa kelompok KKN di Desa Todo sengaja mengemas kegiatan semacam ini. Walaupun sederhana kegiatan ini menghambakan diri untuk tujuan yang luar biasa dan sangat mulia yakni mengembangkan semangat membaca pada anak dan mempertahankan budaya tombo turuk.

“Kami menyediakan buku-buku yang cocok untuk anak-anak. Jumlah buku yang disediakan tidak cukup banyak sehingga sangat pas disebut sebagai perpustakaan mini. Selanjutnya buku-buku ini kami tata di halaman rumah. Kami kemudian mengajaka anak-anak di lingkungan sekitar untuk mendatangi tempat ini, sambil menyediakan permen untuk menaruik perhatian mereka. Ketika sudah banyak anak yang berkumpul, selanjutnya kedua teman yang lain mengambil peran untuk mendampingi anak-anak yang sedang baca atau mulai menceritakan dongeng”, kata Alby menjelaskan rangkaian hal yang dibuat selama menjalankan program ini.

“Sejauh yang kami melihat antusias  anak-anak dalam mengikuti kegiatan ini belum terlampau tinggi. Hal ini mungkin terjadi karena baru pertama dilakukan. Kami yakin program ini akan maju jika sesering dilaksanaakan dan didukung oleh semua komponen masyrakat karena memiliki nilai kebermanfaatan  yang tinggi”, ucap Vona dengan penuh optimis.

Leave A Reply