Seminar Nasional di STKIP Santu Paulus Ruteng dalam Rangka Perayaan Puncak Tahun Pewartaan

Share

Program Studi Pendidikan Teologi STKIP Santu Paulus Ruteng bekerjasama dengan panitia tahun pewartaan Keuskupan Ruteng menyelenggarakan seminar nasional dengan  tema, “Firmanmu adalah Pelita Bagi Kakiku dan Terang Bagi Jalanku (Mzm 119:105)”. Seminar ini diselenggarakan di Aula Missio STKIP Santu Paulus Ruteng pada hari Jumat, 8 Desember 2017. Hadir sebagai narasumber utama, P. Dr. Jhon Mansford Prior, SVD dan P. Dr. Peter C. Aman, OFM, serta moderator Maksimilianus Jemali, M.Th.

Seminar ini dihadiri oleh Rm. Alfons Segar, Pr (Vikjen Keuskupan Ruteng), Rm. Geradus Janur, Pr (Ketua Yayasan Persekolahan Santu Paulus Ruteng), Rm. Dr. Yohanes Servatius Boy Lon, MA (Ketua STKIP Santu Paulus Ruteng), pimpinan komisi yang ada di Keuskupan Ruteng,  utusan pemerintah, biarawan dan biarawati, serta sivitas akademika dari  STKIP Santu Paulus Ruteng dan STIPAS Santu Sirilus Ruteng, para guru agama dan sejumlah tokoh awam.

Pater Jhon dalam materinya menguraikan tentang bagaimana menjadi Gereja Pewarta di tengah arus zaman. Sebagai Gereja pewarta, orang-orang Kristen mesti setia berdialog. Dialog adalah cara kita mewartakan Sabda. Menurut imam SVD asal Inggris  yang sudah puluhan menjadi misionaris di tanah Flores ini, pewarta juga sekaligus adalah si pendengar. Mendengar dengan telinga hati supaya kita terbuka akan segala yang kita alami. Pewarta menjadi pendengar semua suara alam, budaya, dalam komunitas iman, dll.

Lebih lanjut mantan penasehat Paus ini mengungkapkan bahwa kita mesti membuka hati dengan berdoa dengan wawasan yang lebih jernih.  Seluruh alam menyerah hanya pada batin yang tenang. Pewarta juga mesti masuk secara imajinatif dalam budaya lain, mengakuinya, dan menghargainya.

Dosen Teologi Sosial di STFK Ledalero ini juga menyebutkan empat perjumpaan yang mesti dilaksanakan oleh Gereja Pewarta, yaitu perjumpaan dengan bumi dalam kemegahan dan kerusakanannya, dalam budaya, bersama kelompok beriman lain, baik yang terbuka pun merasa tidak aman, dan mendengarkan diri sendiri.

Lebih lanjut, P. Dr. Peter C. Aman, OFM  menguraikan peran Gereja di tengah konstelasi politik yang cenderung menjadikan agama sebagai alat politik. Menurutnya, Gereja melalui bidang pendidikan dan pewartaan mesti menghidupkan filosofi Pancasila sebagai dasar hidup. Pancasila adalah tonggak bangsa yang tidak bisa diganggugugat oleh kelompok primodial apapun.  Menurut Direktur JPIC OFM ini, kita membutuhkan Gereja yang terbuka, yang bersedia menjadi penghubung dan bukan pemisah.

Kegiatan seminar ini dilanjutkan dengan sharing pengalaman dari dua biarawan yaitu Ptr. Yan Juang, SVD, Sr. Franselin, SSpS, dan katekis, Ibu Bernadeta Dudet serta pemberian cinderamata***

Peliput             : Lian Jemali

Leave A Reply