PKM: Membumikan Kehidupan Berhikmat

Share

Kamis (18/4/2019) sekelompok mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng terjun ke Desa Pong Lengor, kecamatan Rahong Utara dalam rangka kegiatan Pengabdian kepada Masarakat (PKM) yang dipadukan dalam kegiatan Trihari Suci perayaan Paska 2019.

Lebih dari empat puluh mahasiswa asal prodi PBSI, STKIP Santu Paulus Ruteng tergabung dalam satu rombongan, Kamis (18/4/2019) bertolak ke Stasi Lengor, Paroki Beokina. Rombongan yang dikomandani Ketua Prodi PBSI, Rm.Bonefasius Rampung, Pr ini, diterima secara adat umat Stasi Lengor bersama unsur tokoh adat, pemerintah, dan dewan stasi. Bapak Benediktus Jeman mewakili tokoh adat dan umat dalam acara penjemputan (manuk kapu dan tuak curu, ayam dan tuak penjemputan) menyatakan rasa gembira menyambut kedatangan rombongan para calon guru bahasa dan sastra asal lembaga milik keuskupan Ruteng ini. “Kami merasa diistimewakan dan mendapat tempat dalam hari STKIP khususnya Prodi PBSI karena dalam kesibukan menjelang pesta demokrasi STKIP masih melayani permintaan umat. Kami senang dan tetap menjalin relasi seperti ini untuk selanjutnya, demikian harapan yang mewakili umat.

Pimpinan rombongan, Romo Bone menanggapi sambutan adat, itu dalam bahasa adat. Imam asal Pocoleok itu menyampaikan terima kasih kepada pastor Paroki Beokina dan umat Stasi Lengor yang telah menaruh harapan serta mengundang mahasswa Prodi PBSI untuk ada bersama umat selama hari-hari penting perayaan Paska.” Kami senang karena umat menaruh harapan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan pelayanan dan pengabdian di Stasi Lengor. Semoga harapan umat di sini akan terpenuhi dan terjawab dalam pelaksanaan tugas dan aneka kegiatan selama perayaan Paska di Lengor ini”, demikian tanggapan ketua rombongan.

Mengakhiri tanggapan atas sambutan adat itu, mantan pembina Seminari Kisol ini menyerahkan uang “Waé Lu’u (air mata atau uang duka). Uang itu diserahkan dengan intensi memohon perkenanan arwah para warga Stasi Lengor yang telah meninggal, untuk menjauhkan semua rintangan dan kesulitan selama rombongan berada dan berkegiatan di Lengor sekaligus memohon para arwah berdoa memberikan warga dan rombongan cuaca yang baik. Rombongan, selanjutnya dibagikan dan didistribusikan ke beberapa Kelompok Basis Gerejani (KBG).

Kehadiran rombongan Prodi PBSI di Stasi Lengor diisi dengan berbagai kegiatan terkait perayaan Trihari Suci. Kamis, 18/4 para mahasiswa terlibat dalam kegiatan persiapan perayaan peringatan Perjamauan Akhir (Kamis Putih). Mahasiswa terlibat dalam penataan lingkungan perayaan, pembersihan tempat ibadat, dan penataan dekorasi terkait tema perayaan.

Perayaan peringatan Perjamuan Akhir dipimpin imam yang sekaligus pimpinan rombongan mahasiswa. Dalam khotbahnya, imam asal Satarmese itu menegaskan bahwa peringatan perjamauan akhir yang dahlu dilakukan Yesus, merupakan peringatan tentang pelayanan dalam kasih. Pelayanan bernuansa kasih itu dihadirkan dalam aksi pembasihan kaki para murid. Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya merupakan proses edukasi tentang pelayanan.

“Pelayanan itu merupakan tindakan dalam rangka memartabatkan kehidupan umat manusia. Dan kita, bersyukur karena tahun 2019 ini ditetapkan sebagai Tahun Pelayanan dengan tema bernada imperatif, Hendaklah Kamu Saling Membasuh Kami Sesamamu!” demikian pengkhotbah menyinggung agenda tahunan Keuskupan Ruteng. Tema tahun pelayanan ini sejalan dengan apa yang menjadi tema nasional Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2019 dalam pernyataan yang singkat tetapi kaya makna. Tema “Kita Berhikmat: Bangsa Bermartabat” hendaknya bisa dijabarkan dalam kehidupan nyata. “Berhikmat, harus menyata dalam pelayanan dan itu berkaitan dengan peri kehidupan yang baik, bukan saja untuk diri sendiri tetapi terlebih untuk orang lain. Yesus itu hikmat dari Allah yang mengangkat martabat manusia pendosa menjadi layak di hadapan Tuhan. Yesus sudah memberi teladan dan apa jawaban kita?” demikian pastor menantang umat yang hadir.

Bukti pelayanan Yesus dalam rangka pemartabatan manusia nyata dalam pengorbannnya di kayu salib yan diperingati dalam perayaan Jumat Agung. Peringatan wafat Almasih didahului dengan menonton film tentang penderitaan Kristus sekaligus mempersipakan umat untuk mengiktui jalan salib. Acara Jumat Agung berlangsung hikmat dalam kondisi cuaca yang menyenangkan. Seluruh acara dikemas dengan baik oleh kelompok mahasiswa yang ber-PKM.

Puncak kegiatan PKM adalah perayaan kebangkitan pada Sabtu Suci dan Minggu Paska. Misa malam kebangkitan didahlui dengan kegiatan katekese pada KBG-KBG yang dimoderasi para mahasiswa. Dalam misa malam Paska, Imam menegaskan panggilan pelayanan untuk menjadi terang. “Kisah tentang Laron yang mati pada sumbuh lampu kiranya menjadi contoh bagi umat yang merayakan Paska. Kita hendaknya rela terbakar untuk memberi terang kepada oran g lain seperti kristus yang memberi terang kepada dunia”, demikian ajakan bagi umat yang hadir.

Melalui khotbah hari Paska imam mengajak seluruh umat untuk menjaga terang yang didapatkan dari kristus sang sumber terang. Terang Paska harus dijaga agar tetap bernyala dan dibagikan kepada orang lain dalam tugas dan aneka pelayanan. Selebran utama mencotohkan para mahasiswa telah datang ke Lengor sebagai sinar dalam peran mereka menanggung berbagai acara perayaan terutama melalui koor yang menggemparkan kapela Stasi Lengor sejak JUmat Agung hingga Minggu Paska.

Dalam acara pelepasan rombongan Ketua Dewan Stasi Lenggor, Bapak Remigius Jeharut, S.Pd.menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus tetap berharap agar para mahasiswa tidak bosan-bosannya datang ke Lengor. “Kami siap menerima mahasiswa dalam berbaga i kesempatan apalagi dalam perayaan gerejani”, demikian harapan kepala sekolah dasar Lengor ini.

Menanggapi sambutan Dewan Stasi Romo Bone mengaskan bahwa kehadiran rombngan mahaiswa untuk ber-PKM di Lengor merupakan bentuk pelayanan untuk membumikan tema tahun pelaynanan tingkat Kesusksupan Ruteng dan menjadikan warga Lengor sebagai orang berhikmat dengana merujuk pada Tema APP Nasional :”Kita Berhikmat, Bangsa Bermartbat”. Acara kebersamaan berakhir dengan pelepasan secara adat berupa tuak po’é (pernyataan tak rela melepaspergikan rombongan). Bapak Bendediktus Jeman tampil sebagai jubir adat dalam melepas rombongan kembali ke kampus Minggu (21/4/2019). (Kelompok PKM PBSI di Stasi Lengor).

Leave A Reply