Share

Pesan Natal Nasional tahun 2018 disampaikan secara terpadu sebagai bentuk kegiatan berliterasi bagi umat di Stasi Santo Eleuterius Wetik, Paroki Wajur oleh sekelompok mahasiswa Program Studi Pendidikan Basaha dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) yang melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat.

Lebih dari sembilan puluh mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng dari Prodi PBSI melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Stasi Santo Eleuterius Wetik, Paroki Wajur, Kecamatan Kuwua Barat, Kabupaten Manggarai Barat. Rombongan PkM ini turun sekaligus merayakan Natal bersama di stasi yang masih berstatus tanpa signal dan tanpa PLN itu.

Duta-duta asal Prodi PBSI ini diberangkatkan pukul 09.00 Wita dari lapangan bola sepak kampus milik Dioses Ruteng (Rabu, 23/12/2018) dengan jasa dua truk kayu. Rombongan mahasiswa calon ‘Petani Kata’ ini dikawal tiga dosen, Rm.Bone Rampung, S.Fil.M.Pd.; Eduardus Y. Abut, S.Fil., M.Pd.; dan Bernardus Tube, M.Pd. Setelah bersibaku hampir empat jam merayapi luas jalan mirip bekas kali dan harus melintasi tikungan maut menuju lokasi rombongan akhirnya tiba dengan selamat dan berlabuh di halaman SDK Wetik.

Umat yang sejak pagi menunggu tampak gembira dan antusias menyambut kelompok calon guru ini. Dalam sambutan bernuansa adat tokoh umat yang mewakili ketua dewan stasi dan umat yang memenuhi ruangan kelas SDK Wetik menyampaikan terima kasih kepada rombongan PkM yang telah memenuhi kerinduan umat paroki Wajur, khusunya umat Wetik. Pimpinan rombongan menerima baik sambutan adat “Manuk Kapu dan Tuak Curu” (ayam dan tuak) penjemputan sembari berharap semoga selama berada di Wetik semua anggotanya tidak mengalami hal yang tidak menyenangkan. Untuk itu, Pastor asal Pocoléok itu, mewakili rombongan, memohon agar semua arwah leluhur orang Wetik turut menjaga para mahasiswanya. Harapan itu ditandai dengan penyerahan Waé Lu’u (air mata,uang duka).

Natal Bernuansa Literat
Nuansa Literasi yang dipadukan dalam program PkM sekelomppok mahasiswa Prodi PBSI ini tampak dalam semua kemasan acara dan kegiatan selama merayakan Natal bersama umat Wetik. Saat perayaan peringatan kelahiran Tuhan, malam Natal, pemimpin perayaan, Romo Bone dalam khotbahnya secara rinci mengedukasi umat Wetik untuk memaknai Tema Natal Nasional 2018, “Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita”.

Tema Natal yang ditandatangani Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dan dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), pada dasarnya mengajak umat Kristiani untuk merayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian dan pujian, tetapi juga dengan upaya konkret untuk hidup dalam hikmat Allah. Kita diajak untuk membela hak-hak asasi manusia sebagai ungkapan kewajiban asasi manusia.

Peristiwa Natal, Inkarnasi merupakan cara Tuhan mengangkat martabat manusia dengan konsekuensi semua yang merayakan Natal harus hidup dalam cara yang bermartabat dan memartabatkan sesama, tandas mantan Pembina Seminari Kisol ini. “Tidak ada cara yang paling luhur dan mulia yang Tuhan gunakan untuk memartabatkan kemansiaan kita selain mengutus sang Putra mengambil kemanusiaan kita. Tidak ada jawaban lain dan yang benar dari manusia selain hidup menjaga martabat diri dan martabat sesama. Yesus telah menjadi Himat bagi kita, maka hiudp kita harus menjadi hikmat bagi dunia kehidupan kita, demikian Bone meyakinkan ribuan umat Wetik yang memadati gereja Wetik malam Natal dan Hari Natal.

Seni yang Memartabatkan Kehidupan
Rombongan PkM Natal dengan latar belakang pendidikan bahasa dan sastra ini berusaha menjabarkan kemampuan Literasinya tidak terbatas pada pemaknaan tema Natal 2018 tetapi juga mengimplemetasikannya dalam memanfaatkan kemampuan olah vocal dan olah bahasa. Kemampuan olah vocal tampak dalam menghadirkan lagu-lagu yang turut menyemarakan perayaan malan Natal dan hari Natal.

Kemamapuan olah bhasa dan sastra tampak dalam pelbagai kemasan acara pentas malam kesenian. “Kami mendidik para mahasiswa kami bukan hanya terori, tetapi juga dihadirkan secara nyata beetapa bahasa dan sastra itu mampu mengolah rasa dan tindakan seseorang”, demikian sepenggal kalimat Bernadus Tube, salah seorang dosen sasta pendamping mengawali kegiatan malam dan pentas kesenian di hadapan ribuan umat yang memadari lapangan di depan pelataran gereja Wetik.

Hal senada diungkapkan Yovan Abut, mantan Frater sekaligus gitaris itu meyakinkan semua yang hadir bahwa seni dapat dipadu secara harmonis. “Musikalisaasi dan Dramatisasi lagu dan sejenisnya yang disajikan malam ini menjadi bukti komitmen kami mendidik mahasiswa untuk mencintai dunia seni”, demikian dosen sastra jebolan UNS mengakahiri sambutan singkatnya.

Perayaan Natal yang Paling Pengesankan
“Tahun ini kami umat Stasi Wetik baru merasakan perayaan Natal sesungguh karena kami merayakan di dalam gereja yang bagus, gereja meluap karena umat dari berbagai penjuru datang, ada koor yang luar biasa dari mahasiswa, dan khotbah yang mengesankan”, demikian komentar Sales Baru, Ketua Dewan Stasi Wetik dalam sambutannya setelah perayaan malam Natal dan hari Natal. “ Kami semua berharap agar kunjungan seperti ini bisa dilanjutkan dalam tahun-tahun yang akan datang dan kami umat Wetik siap menerima”, lanjut guru berperawakan kecil itu.

“Apa yang kami bawakan selama perayaan Natal ini sesungguhnya mau menegaskan kepada semua umat bahwa sekolah itu penting. Di sekolah anak-anak kita akan dibentuk mental dan rasanya tentang pentingnya seni. Sekolah itulah temat pembentukan semua hal yang baik. Kami sudah melakukan banyak hal dan hasilnya kita nikmati selama kami berada bersama di seini”, demikian tanggapan Bone terkait kesan yang disampaikan Dewan Stasi Wetik.

Kesan-kesan indah dan pesan-pesan bermakna kembali hadir dalam kesempatan pelepasan rombongan PkM yang dilaksnakaan di halaman SDK Wetik. Acara pelepasan rombongan kembali dalam kemasan Adat. Resepsi perpisahan membaurkan umat Wetik dan rombongan mahasiswa di bawah naungan ketapang yang rindang. Ada goresan wajah yang terkesan enggan melepaspergikan rombongan dan meninggalkan Wetik.

Tetapi semua paham, perjuangan harus diteruskan ada yang tetap tinggal dan ada yang harus pergi. Berpisah sebentar sekadar menyiapkan kesempatan suatu saat bisa bertemu kembali. Baik yang tinggal maupun yang pergi telah mendapat hikmat dari sebuah perayaan, dari sebuah perjumpapaan. Lebih dari itu kita berjumpa karena Tuhan menjadi Hikmat bagi kita.
(*enob)

Leave A Reply