PkM Literasi Sastra Anak di Panti Asuhan St. Elisabeth Ruteng, Manggarai

Share

Sejumlah dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada Sabtu-Minggu (24-25/2/2018) melawat ke Panti Asuhan St. Elisabeth Ruteng di Kelurahan Pau, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai.. Lawatan itu dimaksudkan untuk mengenalkan sastra anak kepada anak-anak di Panti Asuhan itu. Justru itu program kunjungan ini dinamakan “Kunjungan Literasi Sastra Anak”.
Para dosen yang terlibat dalam kegiatan kunjungan itu ialah Angela Klaudia Danu, M.Pd. (NIDN 0807079001), Priska Filomena Iku,S.S., M.Pd. (NIDN 0808079002), Dr. Ans Prawati Yuliantari, M. Hum, (NIDN 0805077004), Yuliana Jetia Moon, M. Hum, (NIDN 0820108503), Yuvantinus Effrem Warung, S.Sos., M. Pd., (NIDN 0809068304), dan Eduardus Yovan Abut, S.Fil., M.Pd. Keenam dosen tersebut masing-masing membawahi dua mahasiswa dari dua belas mahasiswa yang dilibatkan. Dengan demikian para pelihat PkM ini berjumlah 18 (delapan belas) orang, terdiri dari 6 (enam) dosen dan 12 (dua belas) mahasiswa.
Sebagaimana diprogramkan dalam proposal PkM, tugas dosen pembimbing ialah membimbing dan mendampingi para mahasiswa untuk memilih, membaca, dan berbagi cerita dari karya sastra, baik karya sastra lama Nusantara seperti dongeng, fabel, legenda, dan lain-lain maupun karya sastra modern seperti cerpen, cerbung, drama, dan lain-lain. Setelah mahasiswa didampingi para dosen pembimbing dalam serangkaian simulasi di kampus, pada saat kunjungan para mahasiswa bimbingan terlihat di dalam kegiatan apresiasi sastra.
Acara dalam kegiatan kunjungan literasi sastra anak ini terdiri atas tiga sesi selama dua hari. Pada sesi pertama anak-anak diberi kesempatan untuk mendengarkan bacaan sastra, pementasan singkat, bertanya, dan berbagi cerita bersama para mahasiswa. Para dosen terlibat sebagai pendamping, juga membantu para mahasiswa dan anak-anak dalam aktivitas apresiasi sastra ini, mengklarifikasi, dan mengonfirmasikan beberapa hal yang perlu. Seorang anak, pelibat kegiatan literasi sastra anak usai kegiatan mengungkapkan, “Saya senang mendengarkan dongeng, puisi, dan suka menonton”.
Pada sesi kedua anak-anak diberi kesempatan untuk memilih buku bacaan sastra sendiri, membaca, dan berbagi cerita yang dibacanya bersama temannya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada anak-anak dalam rangka mengapresiasi karya sastra dan meningkatkan literasi sastra. Terdapat aneka ragam buku sastra dan jenis sastra yang mereka pilih. Ketika ditanya, seorang anak mengungkapkan, “Saya memilih buku dongeng karena di dalamnya terdapat banyak gambar yang bagus, juga cerita yang enak dibaca”.
Pada sesi ketiga anak-anak diarahkan untuk mengapresiasi bacaan yang dibaca. Mereka diberi kesempatan untuk menceritakan kembali karya sastra yang telah dibacanya di depan teman-temannya, para mahasiswa, dan dosen yang hadir. Mereka terkesan sangat berani untuk menarasikan kembali hasil bacaannya. Salah satu mahasiswa yang mendampingi sebuah kelompok selama sesi sebelumnya mengungkapkan, “Masing-masing anak memiliki minat yang berbeda. Anak-anak dibiarkan untuk memilih buku dan karya sastra sesuai kemauan atau minatnya”.
Menurut seorang dosen pendamping, Prisca Filomena Iku, sastra anak mesti diperkenalkan kepada anak-anak sejak awal. Menurutnya, budaya literasi sastra anak hampir punah pada masyarakat Manggarai. Literasi digital menjadi tameng berbahaya bagi anak-anak kekinian. “Apresiasi sastra anak merupakan bentuk pengungkapan untuk mengeksplorasi masalah kehidupan anak, memberikan informasi dan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan itu sendiri kepada anak”, urainya.
Senada dengan itu, Ans Prawati Yuliantari mengemukakan bahwa pengenalan dan apresiasi sastra anak merupakan tantangan terbesar bagi para akademisi dan para guru di era digital. “Dalam kenyataannya, anak-anak generasi milenial pada abad ke-21 ini masih kurang mengenal genre sastra, terutama sastra anak. Melalui PkM ini diharapkan bahwa anak-anak mulai mengenal dan semakin mencintai sastra,” kata ibu Tia, sapaan akrabnya.
Sementara itu, pengurus Panti Asuhan St. Elisabeth Ruteng memberi kesan bahwa kegiatan ini membawa anak-anak pada dunia literasi sastra yang sangat dekat dengan kehidupan mereka. “Kegiatan ini sudah sangat membantu anak-anak kami untuk melihat karya sastra sebagai media literasi yang amat bermanfaat,” kata pengurus Panti Asuhan. Selanjutnya dia mengharapkan bahwa ke depan semoga kegiatan semacam ini masih dilaksanakan di Panti Asuhan St. Elisabeth Ruteng. (a-nes)

Leave A Reply